Gagasan prestisius dan ambisius dari Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah ini, sayangnya justru terkesan ahistoris karena menafikan dan seakan melupakan keberadaan Kota Tua Donggala. Kota pelabuhan yang menjadi salah satu kota penting dalam sejarah panjang kemaritiman di Nusantara ini seakan dibiarkan lumat dan luluh lantak diatas puing-puingnya sendiri. Gagasan prestisius yang awalnya mensyaratkan untuk memperhatikan budaya dan membangkitkan living culture tersebut seakan melupakan warisan budaya Kota Tua Donggala berupa bangunan-bangunan tua warisan kolonial yang kondisinya saat ini sangat mengenaskan.
Kota Donggala bukan hanya sekadar nama tempat yang berada di wilayah pesisir barat Pulau Sulawesi, namun kota ini telah menjadi penanda penting dalam sejarah Nusantara. Wacana dan narasi historiografi tentang Donggala sebagaimana kota-kota tua di Nusantara lainnya adalah wacana dan narasi kemaritiman dan tradisi bahari masyarakatnya. Kota Tua yang berada dijalur ramai perniagaan penting di Selat Makassar selain Selat malaka dan Laut Banda ini telah dikenal sejak awal abad ke-15 sebagai kota pelabuhan yang memperdagangkan hasil bumi kopra, damar, dan kemiri, juga ternak sapi. Pelabuhan Donggala adalah salah satu pelabuhan penting di Selat Makassar yang telah terhubung dengan Laut Sulawesi dan Laut Sulu, sebelum akhirnya menuju samudera lebih luas yang menghubungkan Nusantara dengan negeri-negeri jauh melalui Laut Cina Selatan atau melalui Samudera Pasifik.
Kejayaan Kota Tua Donggala di masa lampau tersebut samar terlihat diantara warisan sejarah dan budaya maritim di kota pelabuhan yang kini hanya bersisa puing dan reruntuhan semata. Pasca peristiwa bencana yang terjadi pada tanggal 28 September 2018, kondisi warisan budaya di Kota Tua Donggala tersebut semakin ditelantarkan. Pemerintah yang terkesan abai dan tidak memiliki kepedulian sama sekali terhadap kondisi city heritage atau warisan budaya kota di Kota Tua Donggala ini memang telah berlangsung sangat lama, sejak dipindahkannya operasional Pelabuhan Donggala ke Pantoloan di tahun 1978. Pasca kepindahan operasional pelabuhan tersebut, posisi strategis Kota Donggala yang kala itu menjadi sentrum ekonomi perniagaan laut secara tiba-tiba ikut meredup dan kemudian padam. Aktivitas dan perputaran ekonomi kemudian juga turut bergeser secara signifikan ke Kota Palu yang meninggalkan Kota Tua Donggala dalam kondisi ekonomi yang carut marut dan sekarat.
Pemekaran wilayah yang terjadi pasca Reformasi juga membuat wilayah yang dahulu merupakan pusat pemerintahan Midden Celebes di era Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda ini harus lebih jauh terbenam dalam lubang keterpurukan ekonominya. Kabupaten yang dahulunya adalah penyumbang terbesar Pendapatan Asli Daerah bagi Provinsi Sulawesi Tengah tersebut, kini berada pada barisan terbawah dari wilayah dengan persentasi penduduk miskin terbesar di provinsi ini. Dalam rilis BPS Prov. Sulawesi Tengah persentase penduduk miskin di Kabupaten Donggala telah mencapai angka 16,25% atau sekitar 50.370 jiwa dari 304.110 jiwa penduduknya saat ini.
Keberadaan Kota Baru Donggala – Donggala Sunset City ini juga seakan membangun episentrum ekonomi baru yang menjadikan pariwisata sebagai lokomotifnya namun sekaligus menjadi economic shifting point atau titik pergeseran ekonomi yang kembali menjauh dari Kota Tua Donggala. Setelah ruas jalan yang menghubungkan Kelurahan Kabonga Kecil dengan Kelurahan Ganti juga telah “menjauhkan” akses transportasi ke Kota Tua Donggala dan kini rencana pembangunan ruas jalan yang menghubungkan Desa Towale dengan Kelurahan Bone Oge juga terkesan kembali “menjauhkan” akses transportasi ke Kota Tua Donggala.
Perencanaan kawasan Kota Baru Donggala : Donggala Sunset City sebagai fokus baru destinasi wisata di Kabupaten Donggala juga seakan meninggalkan begitu saja kawasan wisata Tanjung Karang yang dahulu menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara tersebut dalam keadaan porak-poranda dan semrawut, tanpa ada usaha untuk untuk menata kembali. Apakah perencanaan kawasan Kota Baru Donggala – Donggala Sunset City ini akan menjadi pelatuk ekonomi baru bagi wilayah yang ada disekitarnya termasuk Kota Tua Donggala mungkin masih harus menunggu perwujudannya.






