“Kemungkinan akan terjadinya tsunami di Selat Sunda masih tinggi di saat Anak Krakatau masih mengalami aktivitas seperti saat ini dan itu bisa memicu lagi longsoran di bawah laut,” kata Teew.
Laporan awal dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan ketika ada getaran terkuat yang tercatat di Anak Krakatau pada Juni 2018 hal itu tidak menyebabkan naiknya air laut hingga layak disebut muncul tsunami.
Material letusan yang dimuntahkan juga berjatuhan di sekitar punggung Gunung Anak Krakatau ketika getaran erupsi terjadi saat itu. Untuk menyebabkan tsunami diperlukan material berukuran besar yang jatuh ke laut untuk menimbulkan gelombang tinggi. Dan untuk mengikis bagian besar punggung gunung yang jatuh ke laut itu dibutuhkan energi yang cukup besar dan ini tidak terdeteksi oleh alat seismograf di pos pengamatan Anak Krakatau.
Meskipun relatif jarang terjadi, menurut Komisi Oseanografi Antar Pemerintah pada UNESCO, longsoran di bawah laut terutama yang terkait dengan gunung berapi bisa menjadi gangguan impulsif, yang menarik volume besar air dan menghasilkan gelombang tsunami merusak di daerah-daerah sekitarnya.
Menurut mekanisme ini, gelombang dapat dihasilkan oleh perpindahan tiba-tiba air yang disebabkan oleh longsoran bawah laut, baik akibat ledakan gunung berapi atau runtuhnya ruang magmatik vulkanik.
Salah satu tsunami terbesar dan paling destruktif yang pernah dicatat, terjadi pada 26 Agustus 1883, setelah letusan Gunung Krakatau. Longsor laut akibat letusan ini menghasilkan gelombang setinggi 135 kaki (setara 41,2 meter), yang menghancurkan kota-kota pesisir dan desa-desa di sepanjang Selat Sunda di Pulau Jawa dan Sumatra.
Korban tewas akibat terjangan tsunami dahsyat itu mencapai 36.417 orang
Sumber : Merdeka.com






