Video berdurasi 18 detik itu diunggah oleh pengguna Facebook, Epank Kerrong Emmak. Sontak, unggahan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.
Saat itu video itu telah ditonton sebanyak lebih dari 37.000 dan telah dibagikan sebanyak 741 kali oleh pengguna Facebook lainnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin mengungkapkan bahwa peristiwa tersebt adalah jatuhnya bolide atau bola api (meteor besar).
“Dilihat dari videonya, itu adalah bolide. Ketinggian sekitar 120 kilometer. Bolide adalah meteor besar karena masuknya batuan antariksa dan mulai terbakar pada ketinggian sekitar 120 kilometer,” ujar Thomas seperti diberitakan Kompas.com.
Namun, Thomas menyatakan bahwa peristiwa yang terjadi dalam video bukan merupakan Eta Aquarids. Fenomena Eta Aquarids adalah fenomena rutin tahunan yang dikarenakan bumi melintasi gugusan debu-debu komet.
“Kejadian tersebut tidak terkait dengan Eta Aquarids. Hujan meteor Eta Aquarids terjadinya dini hari. Sumbernya dari debu-debu komet, sehingga meteor yang tampak hanya seperti bintang redup,” ujar Thomas.
Menurut dia, bolide dengan Eta Aquarids memiliki perbedaan. Untuk fenomena bolide, meteor yang jatuh tergolong meteor sporadik yang terjadi sewaktu-waktu. Sementara, Eta Aquarids merupakan peristiwa rutin.
Selain itu, Thomas menyampaikan bahwa meteor yang jatuh dalam video berkecapatan sekitar 11-70 kilometer per detik. Namun, Thomas belum bisa memastikan di mana peristiwa itu terjadi.
Penulis : Siturwijaya






