PIRAU MARUNDUH, TOKOH POLITIK DAN PEJUANG KEMERDEKAAN DARI MORI

oleh -
oleh
Foto : Pirau Marundu

Setelah pasukan TNI Pusat mendarat dan memperoleh banyak kemajuan di berbagai medan pertempuran di palagan Sulawesi Utara – Tengah, maka untuk mengkonsolidasikan pasukan, pada bulan Juni – Juli 1958, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Permesta Letkol Ventje Sumual kemudian menghapuskan Komando Daerah Militer Sulawesi Utara/Tengah (KDM-SUT) dan menggantinya dengan empat Komando Daerah Pertempuran (KDP). Pada waktu itu, kekuatan KDM-SUT hanya mencakup kekuatan bekas Resimen Infantri 24 yaitu 2 batalion infantri di bawah komando Mayor Dolf Runturambi dan Mayor Lukas Palar, 2  kompi infantri di bawah pimpinan Kapten Frans Karangan dan Lettu Yo Lumanauw, masing-masing merupakan kompi cadangan dan kompi markas. Untuk wilayah Sulawesi Tengah ditetapkan sebagai KDP-IV meliputi daerah Palu, Donggala, Toli-toli dan Posso di bawah komando Letkol Dee Gerungan dengan menempatkan Resimen Anoa yang bermarkas di Posso dengan kekuatan setingkat batalion dengan komandan Mayor Lukas Palar. Oleh sebab itu, keluarga Mokole Pirau Marunduh sempat menyaksikan dengan mata kepala, bagaimana ketika motor cepat yang ditumpangi oleh Mayor Palar yang hendak menuju Parigi disergap dan diborondong dengan senapan mesin oleh sebuah pesawat AURI, Mustang P-51 yang berpangkalan di Tanah Masowu (sekarang Mutiara) Palu. Ketika peristiwa itu terjadi, posisi motor cepat persis berada di tengah laut Teluk Tomini, masih cukup jelas terlihat dari darat. Lokasi rumah dinas yang ditempati oleh keluarga Mokole  Pirau Marunduh terletak di Jalan Penghibur No. D3, sementara rumah dinas Mayor Lukas Palar terletak di jalan yang sama No.D5. Tidak mengherankan bila putri sulung Mayor Lukas Palar, Christine Palar menjadi teman sepermainan masa kecil dengan Penulis di jalan Penghibur Poso. Rumah dinas ini persis menghadap laut Teluk Tomini.

Sepeninggal Mayor Lukas Palar, moril pasukan Permesta yang mempertahankan Posso dengan cepat melorot. Itulah sebabnya, kota Posso dapat direbut pada 14 Juli 1958 oleh GPST (Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah) melalui pertempuran seharian penuh. Dari pihak GPST gugur 15 anggota yang semuanya telah dikebumikan di makam pahlawan Posso.

Penugasan  Mokole Pirau Marunduh di Posso diakhiri dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bupati KDH Tingkat II Posso No.259/U.P Tanggal 19 Juli 1966 tmt 1 Januari 1966 dipindahkan dari Kantor BKDH Tingkat II Posso ke Kolonodale dengan jabatan baru sebagai Penghubung Bupati KDH Tingkat II Posso untuk wilayah Mori di Kolonodale.

Ketika sedang bertugas di Kolonodale, melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No.19/P-D Tanggal 10 Oktober 1971 tmt 14 Oktober 1971  terpilih/dilantik sebagai anggota DPRD Tingkat I Sulawesi Tengah di Palu. Selanjutnya melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No.320 Tahun 1971 Tanggal 11 November 1971 tmt 10 Januari 1972 terpilih/dilantik sebagai Wakil Ketua DPRD Tingkat I Sulawesi Tengah di Palu. Dengan penugasan ini, Mokole Pirau Marunduh dan keluarga akhirnya pindah ke Palu. Hal pertama dan utama yang dilakukan oleh keluarga ini ialah mengadakan perjalanan nostalgia dengan mengunjungi para sahabat dan handai tolan di Biromaru, Tawaeli dan Donggala. Selama penugasan di Biromaru, Tawaeli dan Donggala, meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi  keluarga ini. Mereka diterima oleh penduduk di daerah ini dengan sangat baik dan penuh dengan rasa persaudaraan tanpa memandang suku atau agama.*

Catatan Kaki

1)  Menikah dengan Iwanah Marianne Talasa Dra, putri sulung Wongko Lemba Talasa, Raja Posso IX (1947-1985) dan dikarunia dua orang putri Dhira Y. Marunduh SH.MH dan Sonia N. Marunduh SPsi, MPsi, Psikolog. Dhira Y. Marunduh SH.MH menikah dengan Christ Widjaja BSc.MSc dan Sonia N. Marunduh SPsi, MPsi, Psikolog menikah dengan Deni Kristiyawan SH dan dikaruniai seorang putra Nusantara Kristiyawan.

2)  Tumakaka J.K, Hiduplah Sabar dan Rendah Hati (otobiografi), tanpa tahun, Jakarta : Yayasan Piranti Ilmu, hlm 37.

3)  Komperensi Malino adalah konferensi yang diselenggarakan pada 15-25 Juli 1946 di Malino (sebuah kota kecil yang terletak di kaki gunung Lompobatang ± 50 km sebelah Tenggara Makassar).  Konferensi ini terselenggara atas prakarsa H.J Van Mook. Dalang konferensi ini dibahas mengenai rencana pembentukan negara-negara boneka. Daerah-daerah yang mengirim delegasinya untuk mengikuti konferensi tersebut antara lain, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Minahasa, Bali, Lombok, Timor, Sangihe, Talaud, Maluku Utara, Maluku Selatan dan Papua.

4)  Ide Anak Agung Gde Agung, 1985. Dari Negara Indonesia Timur ke Republik Indonesia Serikat, Jogyakarta: Gajahmada University Press, hlm 125.

5) Saat pertemuan antara Mokole Wongko  Lemba Talasa dengan Mokole Pirau Marunduh di Konferensi Denpasar tersebut, tercetus ikrar kedua Mokole untuk saling menjodohkan anak-anak mereka dikemudian  hari. Ikrar suci ini dijawab Tuhan dengan terlaksananya pernikahan antara Penulis dengan Iwanah M. Talasa pada 17 September 1982 di Posso.

6)  Wawancara dengan Ny Johana Sumampouw Marunduh di Surabaya pada 11 Januari 2015.

7) Jotten Joos MSC, 2011. Kisah Penculikan Pastor dan Dokter,  Jakarta: Cahaya Pineleng. Hlm XIII

Senarai Pustaka

Arsip pribadi keluarga Mokole Pirau Marunduh.

Hegener Michiel, 1990. Guerilla in Mori. Het verset tegen de Japanners op Midden- Celebes inde tweede Oorlog. Amsterdam: Uitgeverij Contact.

Ide Anak Agung Gde Agung, 1985. Dari Negara Indonesia Timur ke Republik Indonesia Serikat. Jogjakarta: Gajahmada University Press.

Jamrin, Ab, 2015.  15 Tokoh Bersejarah Provinsi Sulawesi Tengah, Palu: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah.

jotten Joos MSC, 2011. Kisah Penculikan Pastor dan Dokter. Jakarta: Cahaya Pineleng.

Kruyt Alb, C, 1979. Kerajaan Mori, Jakarta: PT Inti Idayu Press.

Marunduh Murdan, 2014. Usulan Tentang Perubahan nama Bandar udara Kasiguncu Posso, Provinsi Sulawesi tengah menjadi nama Bandara Udara Wongko Lemba Talasa (Kajian yang disampaikan kepada Bapak Menteri Perhubungan RI di Jakarta).

Tumakaka A.K, 1977. Kenang-Kenanganku (Rorambeaku), Kolonodale: Manuskrip.

Tumakaka, J.K, tanpa tahun. Hiduplah Sabar Rendah Hati, (otobiografi). Jakarta: Yayasan Visi Lima Sejahtera.