“Satu minggu dari hari ini, kalau CPM tidak merespons tuntutan kami, akan ada aksi lanjutan supaya CPM diusir keluar dari Kota Palu,” tegas Sofyar.
Menurutnya, warga berupaya menghindari konflik, namun ketidakjelasan sikap perusahaan membuat kesabaran masyarakat semakin menipis.
Pantauan media ini, aksi yang berlangsung hingga siang hari itu tampak tidak mendapat tanggapan dari manajemen PT CPM. Tidak satu pun perwakilan perusahaan menemui massa, sehingga memperkuat kekecewaan warga yang merasa aspirasinya terus diabaikan.
Meski demikian, massa tetap melanjutkan orasi dan menyerukan dibukanya dialog terbuka antara warga dan perusahaan.
Pengamanan dilakukan oleh aparat Polresta Palu dengan menurunkan puluhan personel untuk memastikan aksi berjalan tertib.
Setelah menyampaikan tuntutan, massa membubarkan diri dengan tertib, namun menegaskan bahwa aksi ini bukan yang terakhir. Mereka sepakat kembali turun ke jalan apabila dalam satu minggu ke depan PT CPM tidak memberikan jawaban resmi terkait penciutan lahan konsesi.
Bagi masyarakat Poboya, perjuangan ini bukan sekadar soal tambang, tetapi tentang hak memperoleh akses ekonomi yang mereka rasa selama ini tertutup oleh kebijakan perusahaan.
Tokoh masyarakat menyatakan bahwa aksi lanjutan akan digelar lebih besar dan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat apabila tidak ada kepastian dari PT CPM. Mereka juga berharap pemerintah daerah hadir memfasilitasi dialog agar ketegangan tidak berlarut.
Respons PT CPM dalam sepekan ke depan akan menentukan arah perjuangan warga sekaligus menjadi penanda apakah aspirasi mereka benar-benar didengar.






