“Bahu jalannya juga tidak ditimbun atau di cor. Begitu juga batu untuk pembangunan taludnya hanya dibiarkan berserakan tidak dirapikan, ‘Caparuni’,” tambahnya.
Masih di ruas yang sama, penanganan drainase dan box culvert mandala I terlihat sudah retak dan ambruk. Hal ini oleh beberapa pihak diduga akibat rendahnya mutu dari pembangunan itu sendri.
“Ini jelas mutunya tidak sesuai standar. Kalau melihat kondisi di lapangan, ada banyak faktor bisa menyebabkan bangunan saluran dan oprid box culvert itu bisa ambrol, bisa karena campuran semennya kurang, kemudian material pasir yang digunakan banyak tercampur tanah dan bisa juga karena itu berdekatan dengan laut sehingga mereka gunakan pasir pantai,” tutur Gunt seorang pemerhati konstruksi jalan nasional di Sulteng.

Diketahui pada ruas itu terdapat pekerjaan pemeliharaan rutin kondisi, penunjang/holding, pemeliharaan preventif, rehabilitasi minor jalan, rekonstruksi jalan, penanganan drainase, pemeliharaan berkala jembatan dan rehabilitasi jembatan.
Terkait proyek tersebut, PPK 3.2 sebagai penanggung jawab Paket Preservasi Ruas Ampana-Balingara, Windunoto Abisetyo saat dihubungi di nomor ponsel miliknya 082396637xxx terdengar tidak dapat di hubungi atau sedang tidak aktif.
Tak hanya itu, Kepala Satker PJN Wilayah III Sulawesi Tengah, Dian Maulana saat dikonfirmasi mengenai proyek di ruas tersebut juga tidak memberikan jawaban hingga berita ini naik tayang.
Sementara informasi dihimpun dari berbagai sumber terkait proyek di ruas jalan nasional itu di mana diketahui ada dua penanganan di ruas Ampana hingga Pagimana pada tahun 2023 lalu yakni, penanganan long segmen berbasis jalan Ampana-Balingara-Bunta-Pagimana yang dikerjakan oleh PT Nugroho Lestari dengan nilai kontraknya Rp 21,3 miliar. Kemudian, preservasi rutin jalan yang dikerjakan oleh CV Tritunggal Jaya dengan anggaran Rp2,3 milyar.***
(ZF)






