Warga Loli Saluran Protes Jalan Nasional Berdebu Akibat Aktivitas Truk Tambang

oleh -
oleh
Tampak aktivitas truk-truk tambang galian C di Desa Loli Saluran, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, mendapat protes dari warga. FOTO: Ist

PosRakyat.com – Warga Desa Loli Saluran, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, menggelar aksi protes pada Rabu (5/11/2025). Mereka mempersoalkan kondisi jalan nasional yang dipenuhi debu akibat tumpahan material galian C dari aktivitas bongkar muat truk-truk besar yang diduga milik PT Bosowa Tambang Indonesia dan PT Hamparan Perkasa.

Warga mengaku kesal karena truk-truk bermuatan berat tersebut kerap melintasi jalan nasional yang sejatinya tidak diperuntukkan sebagai jalur hauling atau pengangkutan material tambang. Akibatnya, jalan menjadi rusak, licin, dan menimbulkan debu tebal yang mengganggu kenyamanan serta kesehatan masyarakat sekitar.

“Kami sebenarnya tidak mau ribut, Pak, tapi debunya parah sekali. Setiap hari kami harus menyiram halaman rumah karena jalan di depan rumah penuh debu dan material tumpah,” ujar Karmila (56), warga Desa Loli Saluran, kepada media ini, Rabu sore.

Aksi warga berlangsung hingga menjelang magrib. Beberapa warga tampak bersuara lantang mengingatkan sopir truk yang melintas agar menyampaikan keluhan masyarakat kepada pihak perusahaan. Mereka berharap para sopir dapat menjadi perantara agar suara warga benar-benar sampai ke manajemen perusahaan tambang.

Warga juga mendesak agar perusahaan menyediakan jalur khusus pengangkutan material serta melakukan penyiraman jalan secara rutin untuk mengurangi dampak debu dan tumpahan material di jalan nasional.

Salah satu warga, Mirzan, tokoh pemuda Loli Saluran, bahkan menyebut nama Rey sebagai pihak yang dianggap bertanggung jawab atas aktivitas pengangkutan material galian C tersebut.

Baca Juga: Menhan dan Gubernur Sulteng Tinjau Penertiban Tambang Ilegal di Morowali, Tegaskan Kedaulatan atas Sumber Daya Alam

Baca Juga: Polda Sulteng Belum Berhasil Buka iPhone Milik Korban Afif Siraja

“Kami tahu siapa yang mengatur truk-truk itu. Rey harus ikut bertanggung jawab karena aktivitas ini sudah merugikan masyarakat dan membahayakan pengguna jalan,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Rey Daniel, yang disebut warga sebagai “Bos Rey”, membenarkan adanya aktivitas pengangkutan material galian C menuju jeti. Namun, ia menyebut kegiatan tersebut telah dihentikan setelah ditemukan sejumlah kekurangan dalam pelaksanaannya.