Muzani menuturkan mereka percaya saja mandat tersebut dikirim karena yang merekomendasikan adalah Prof. Suhardi selaku Ketua Umum. Semua keperluan mendirikan partai dikirim, asalkan partai bisa berdiri di Sulteng dan di sejumlah kabupaten dan kota sampai kecamatan. Pada hari di mana partai akan didaftarkan ke Kementrian Hukum dan HAM, Alimuddin Pa’ada tiba di Jakarta membawa seluruh kelengkapan berkas partai. Di mana awalnya partai ini kurang diminati rakyat di Sulteng, tetapi sekarang menjadi partai besar dan melahirkan seorang Gubernur dan sejumlah wakil bupati, dan pimpinan DPRD provinsi maupun kota di Sulteng. Yang lebih mengejutkan lagi, di tengah partai tidak lirik oleh politisi, Gerindra sudah memberikan kontribusi kepada Longki Djanggola sebagai Bupati Parigi Moutong.
“Belum sampai dua tahun, tiba – tiba partai ini punya bupati namanya Longki Djanggola. Inilah bupati pertama yang bergabung dengan partai namanya Gerindra,” cerita Muzani.
Dikemukakan, Longki Djanggola merupakan pejabat publik pertama yang dimiliki Partai Gerindra. Setelah itu, Longki Djanggola berlaga di Pilgub Sulteng dan terpilih sampai dua periode. Gubernur pertama di miliki Gerindra di Indonesia adalah Longki Djanggola. Gerak Burung Garuda di mulai dari timur Provinsi Sulteng yang kemudian menjadi inspirasi, menyemangati seluruh kader di DPP, di Pulau Jawa, Sumatra, di Kalimantan pentingnya pejabat publik bupati, wali kota, gubernur dari kader partai karena adanya seorang Longki Djanggola. Yang lebih mengagetkan lagi katanya, Provinsi Sulawesi Tengah ketika itu salah satu provinsi nomor bawah dalam setiap apa pun.
“Indek Pembangunan Manusia rendah, tingkat kemiskinan tinggi, tingkat pengangguran tinggi, dan seterusnya,” cerita Muzani.
Lanjut dia, pertumbuhan ekonomi Sulteng sebelum di jabat Longki rendah. Setelah pergantian gubenur, Sulteng dengan tangan dingin Longki Djanggola pertumbuhan ekonomi Sulteng mencatat sejarah tertinggi secara nasional 14 persen, padahal rata – rata nasional hanya 5 persen pertumbuhan ekonominya. Bahkan saat ini dalam kondisi Covid – 19, di mana daerah lain masuk zona merah, Sulteng zona hijau. Ketika terjadi bencana gempa gumi, tsunami, dan liquifaksi, serta bencana lainnya dengan waktu yang bersamaan di Sulteng, sebagai Gubernur tidak gampang memulihkan kembali situasi, memberikan kepada rakyat, menyebarkan rakyat, semua lumpuh dan mati.
“Distribusi makanan habis, listrik mati, semua minta pertolongan. Tidak gampang memimpin situasi itu, dan Longki mengatasi itu,” ungkapnya.
Menurut Muzani, posisi ini yang akan diwariskan Longki kepada gubernur yang akan datang. Karena itu, Mohammad Hidayat Lamakarate mewarisi prestasi ini dalam posisi yang sudah mapan. Partai sudah bagus, pembangunan sudah berjalan, situasi sudah kondusif. Salah satu hutang partai yang menjadi pekerjaan rumah adalah memberikan kontribusi pembangunan secara utuh terhadap negara sesuai amanat Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945. ***






