DONGGALA DALAM PENANTIAN

oleh -
oleh
Dr. H. Asri Asten, M.Pd

Untuk itu, dalam suatu kehidupan dimana ciri-ciri masyarakat masa depan adalah adanya keterbukaan, demokrasi yang jernih dan partisipasi masyarakat sebagai subyek pembangunan, maka seorang pemimpin dituntut di samping memiliki sifat-sifat tradisional yang melambangkan moral kepemimpinan, juga harus merupakan sosok modern, karena yang demikian adalah seorang yang memiliki wawasan, inovatif dan rasional serta  harus mampu memahami masalah-masalah yang kompleks dan mampu menemukan pemecahan yang sederhana dan mudah dilaksanakan, berani mengambil resiko secara moral dan mampu memperhitungkan resiko yang mungkin dihadapi dalam pengambilan keputusan yang strategik.

Murray Bethel pernah mengemukakan bahwa sebagai pemimpin, kita hidup di bawah kaca mikroskop, segala yang kita katakan atau lakukan tidak terlepas dari pengamatan yang teliti dan cermat pada pengikut kita. Seorang pemimpin pertama-tama dengan memberikan contoh karena segala sesuatu yang kita katakan atau lakukan mengandung pesan atau mengajak seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Untuk itu, beliau memperkenalkan sifat kepemimpinan jika ingin mengubah keadaan yang disesuaikan dengan judul bukunya: “Making A Difference” antara lain bahwa: seorang pemimpin harus memiliki misi yang penting, seorang pemikir yang besar, mempunyai etika yang tinggi (membangun kepercayaan), seorang master pengubah, bersifat peka, seorang pengambil resiko, seorang pengambil keputusan, menggunakan kekuasaannya secara arif dan bijaksana, berkomunikasi secara efektif, memaksimalkan kemampuan orang, bersifat pemberani dan mempunyai komitmen. Namun, dari 12 sifat kepemimpinan tersebut mungkin tidak semua calon pemimpin memilikinya secara sempurna, buat generasi kepemimpinan yang baru yang perlu mendapat perhatian adalah cepat atau lambat masyarakat kita akan semakin cerdas, kritis dan mengerti akan hak-haknya serta diperlakukan bukan lagi sebagai obyek yang terus menerus diatur akan tetapi perlu diperlakukan dan diperanaktifkan sebagai subyek pembangunan.

Jadi, sosok pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat adalah: pertama, orangnya harus berakhlaqul karimah artinya dalam menjalankan peran kepemimpinannya selalu bersandar kepada ketentuan yang telah diatur oleh Allah SWT (mengikuti aturan main dari Allah dan Rasul); kedua, orangnya pemegang amanah artinya menganggap bahwa jabatan itu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada rakyat utamanya kepada Allah SWT; ketiga, orangnya demokrat artinya memberikan keleluasaan atau membuka peran serta masyarakat dalam pembangunan; keempat, orangnya peka terhadap nasib orang kecil; kelima, orangnya yang rendah hati artinya selalu berserah diri dan tidak sombong; keenam, mempunyai/memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas artinya dapat mengelola pemerintahan secara baik dan benar; ketujuh, memiliki visi dan keterbukaan artinya mengetahui arah atau tujuan yang akan dicapai dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk kritik membangun; dan kedelapan, orang memiliki komitmen untuk memerangi penyakit-penyakit birokrasi.

Harapan masyarakat mudah-mudahan yang akan jadi nakhoda mengarungi samudra luas yang penuh dengan rintangan/tantangan menuju tempat yang diidam-idamkan yaitu menjadi kabupaten yang aman, damai serta rukun dan bahagia “Baldhatun Taibatun Wa Rabbun Gafur” adalah benar-benar merupakan kader atau anak bangsa yang handal dan selalu meminta petunjuk kepada Allah SWT untuk mendapat rahmat dan redho, karena orang yang diberi kepercayaan atau amanah sebagai pemimpin bukan hanya bertanggung jawab di dunia ini, akan tetapi lebih utama dapat mempertanggungjawabkan di hadapan Allah Azza Wa Jalla, yakin, yakin dan yakinkah kita.*