Kebaikan Sebatang Rokok

oleh -
Ilustrasi

Oleh : Usman Hasan


Seorang teman (puluhan tahun silam) mengingatkan saya. Soal kebaikan.

 “Belum tentu kebaikan  seseorang memang tulus. Boleh jadi kebaikan itu dijadikan topeng yang kemudian tujuannya mendapatkan sesuatu yang lebih berharga.”

Dia memberikan contoh, kamu diberikan sebatang rokok. Ujung-ujungnya dia meminta tolong kamu pikul karungnya diantar ke pelabuhan. Nah, memang ketika kamu diberi sebatang rokok, dianggaplah dia manusia baik. Tapi sebuah karung diangkat ke pelabuhan. Kan ndak seimbang .”dia menjelaskan.

Saya boleh disebut menyendiri (bukan bertapa). Setiap hari mengurus ternak (yang tidak seberapa) dan menanam pisang. Internet tetap ada.

Dalam kesendirian, tetap saja ada saja teman sekali-sekali datang. Tetangga juga, sama-sama pekebun diwaktu luang datang kerumah.  Ceritanya nyentil soal politik, pilkada tolitoli yang tak lama lagi

“itu si a baik orangnya. Dia cocok jadi bupati.” Tetangga saya angkat pembicaraan

“siapa pasangannya “ ? tanya tetangga yg lain

Saya langsung masuk. Gini nah, soal baik, menurut saya. Semua bakal calon adalah orang baik. Itu menurut say a. Ndak ada yang bukan orang baik. Secara umum begitu. Yang menjadi soal, siapa yang cocok, siapa yang mampu diberi amanah. Siapa yang dipercaya. Siapa yang memiliki kapasitas. Kalau kamu diberi sebatang rokok, kan itu tandanya orang baik, kalau kamu diberi seratus ribu, itu tanda orang baik. Tapi diminta suaramu. Dari suaramu , naiklah dia jadi bupati. Kemudian dia mengurusi diri sendiri, keluarga, kelompok, kliknya. Dia memperkaya dirinya. Kamu hanya kebagian sebatang rokok. disana untung disini buntung

“ia juga ya.” Kata teman-teman diskusi hampir serempak.

loading...