Kembalinya Sang Maestro Kopi Nagaya

oleh -
oleh
Kurniawan Tanugra alias Khie Lung

Bicara soal minuman kopi bagi orang Donggala tidaklah berlebihan kalau mereka memuji warkop paling popular di kota tua itu. Dari sejumlah orang yang dimintai pendapat soal warung kopi, jawabannya pasti Nagaya. Dari orang tua sampai anak-anak remaja di Donggala menyebut Warkop Nagaya tidaklah asing, sekalipun di antara mereka belum pernah masuk ke warung itu, tapi tahu Nagaya.
Warkop Nagaya dirintis orang tua Khie Lung, almarhum Tan Ing Sun yang kelahiran 15 Maret 1930 ini adalah kelahiran dari Tanah Cina telah lama masuk Warga Negara Indonesia. Dia bersama istrinya sebagai perintis Nagaya sejak pertengahan dekade 1950-an. Kemudian tahun 1990-an usaha warung kopi itu dilanjutkan Khie Lung, salah satu anaknya. Sedang sang perintis tinggal istrahat menjalani hari-hari tuanya. “Anak saya itu memang sejak lama sudah membantu saya di warung, sehingga mengetahui betul soal membuat kopi yang baik. Hasil buatannya sama persis seperti sejak dulu,” kata Tan Ing Sun semasa hidupnya.

Nama Nagaya diberi sendiri oleh Ing Sun diadaptasi dari bahasa Kaili dialek Rai. Pendiri Nagaya sendiri menguasai bahasa Kaili Rai, karena cukup lama tinggal di Desa Lero, Kecamatan Sindue, Pantai Barat-Kabupaten Donggala. Nagaya sama artinya Nadoli dalam bahasa Kaili dialek Ledo yang berarti yang cantik dan menarik. Tentunya dengan harapan membawa rezeki bagi pengelolanya dengan cara menarik.

Racikan kopi yang enak mestilah berasal dari bahan pilihan dan digoreng sendiri tanpa ada campuran. Dalam sepekan, Nagaya bisa menghabiskan 10 kg biji kopi yang kemudian digoreng sendiri. “Dulu sebelum ada mesin giling, kopinya ditumbuk dengan alu di Gunung Bale, tapi sekarang sudah pakai mesin gilingan yang ada di pasar,” kata Ing Sun.

Pada saat masih jaya-jayanya pelabuhan Donggala, warung dibuka sejak subuh sampai malam. Pelanggan waktu itu sangat banyak, terutama orang dari pelabuhan, sehingga karyawannya pun sampai tiga orang. Kemudian sejak tahun 1982 mulai pindah ke tempat depan rumah (deretan ruko) dengan jam buka pukul 07.30 sampai 15.00 Wita. Kini sejak sepekan ini kembali lagi ke kediaman tempat semula.Jadi memang nagaya dan narasampuu. Peracik pertamanya saja langsung dari Negeri Cina yang kini jadi legenda kota tua.*

JAMRIN AB