Kembalinya Sang Maestro Kopi Nagaya

oleh -
Kurniawan Tanugra alias Khie Lung

SETELAH Setahun berdiam tidak melakukan aktivitas meracik kopi yang selalu dirindukan warga kota Donggala, akhirnya mulai awal pekan ini, Kurniawan Tanugra alias Khie Lung (63 tahun) kembali meracik seduhan kopi. Nagaya, nama Warung Kopi (Warkop) paling melegenda di kawasan kota tua Donggala itu kini buka lagi. Sebuah kebangkitan sejak peristiwa gempa bumi dan tsunami, 28 September 2018 menghentikan langkah sang maestro kopi paling Nagaya sejak puluhan tahun silam.

“Saya membuka kembali usaha kopi ini karena adanya permintaan para pelanggan yang cukup lama mencari-cari ingin merasakan, tapi itu pun saya tidak terlalu forsil untuk buka seperti yang lalu. Pokonya kalau pas waktu longgar ya saya buka, tapi kalau lagi ada kesibukan terpaksa tidak jualan lagi,” kata Khie Lung saat ditemui, Jumat, (17/1/2020) kemarin.

Selain terkait bencana alam yang sempat menghentikan langkah sang maestro kopi itu, juga disebabkan tempat meracik kopi sewanya naik seratus persen dibanding yang lalu. Akibatnya, kata Khie Lung lebih baik tutup dari pada sewa tempat yang mahal, apalagi untuk urusan jualan kopi di kota Donggala sebetulnya tidak seberapa untungnya. Karena itu pula bersama istrinya ia fokus pada jualan aneka roti yang juga sudah cukup dikenal dan banyak pelanggan. Kini tempat jualan kopi menempati sebuah ruangan sempit di antara ruang tamu dan ruang jualan roti. Nama yang sangat dikenal bagi pelanggan tetap datang menikmati racikan seduhan sang maestro yang selalu dirindukan itu.

“Kalau datang ke Donggala, jangan lupa mampir ke Warung Kopi Nagaya.” Pesan itu sering dilontarkan para pecandu kopi di Donggala. Termasuk orang-orang perantau yang kebetulan sedang mudik, sebelum pulang tak lupa mampir dulu ke Nagaya mencicipi kopi dengan racikan “narasa.”
Dulu di sinilah bisa menjadi tempat penyampaian segala unek-unek di antara pengunjung, bisa saling bergurau atau bertukar informasi segala isu yang sedang hangat dibicarakan baik lokal maupun nasional. Betul-betul menjadi penyaluran segala pikiran di antara pengunjung, warga setempat kadang menyebut Nagaya merupakan “DPRD Tingkat III” Donggala.

Pengunjung pun beragam latar belakang, dari buruh pelabuhan, nelayan, pegawai kantoran, polisi, politisi sampai pejabat pemerintah menjadi pelanggan Nagaya. Menunya selain kopi susu dan kopi hitam, ada pula roti. Selanjutnya bisa bercerita berjam-jam saling bergurau, saling sindir tanpa bermaksud melukai perasaan orang lain. Orang Donggala menyebutnya “sipandala.” Bila ada banyak pengunjung, tetapi tempat duduk tidak cukup, maka sudah menjadi tatakrama yang merasa sudah cukup lama duduk, pasti mengerti segera meninggalkan tempat. Giliran yang baru datang menempati kursi. Maklum tempat kursi yang tersedia tidak sampai 20-an, karena ruangan tak begitu luas. “Tetapi bagi pecandu kopi di Donggala, bukan itu saja yang bikin mereka betah datang ke Nagaya dan kemudian berkeinginan untuk mampir lagi. Melainkan aroma kopinya memang sangat khas dibanding racikan kopi di tempat lainnya walaupun bahannya sama,” kata seorang pelanggan memuji.

Bicara soal minuman kopi bagi orang Donggala tidaklah berlebihan kalau mereka memuji warkop paling popular di kota tua itu. Dari sejumlah orang yang dimintai pendapat soal warung kopi, jawabannya pasti Nagaya. Dari orang tua sampai anak-anak remaja di Donggala menyebut Warkop Nagaya tidaklah asing, sekalipun di antara mereka belum pernah masuk ke warung itu, tapi tahu Nagaya.
Warkop Nagaya dirintis orang tua Khie Lung, almarhum Tan Ing Sun yang kelahiran 15 Maret 1930 ini adalah kelahiran dari Tanah Cina telah lama masuk Warga Negara Indonesia. Dia bersama istrinya sebagai perintis Nagaya sejak pertengahan dekade 1950-an. Kemudian tahun 1990-an usaha warung kopi itu dilanjutkan Khie Lung, salah satu anaknya. Sedang sang perintis tinggal istrahat menjalani hari-hari tuanya. “Anak saya itu memang sejak lama sudah membantu saya di warung, sehingga mengetahui betul soal membuat kopi yang baik. Hasil buatannya sama persis seperti sejak dulu,” kata Tan Ing Sun semasa hidupnya.

Nama Nagaya diberi sendiri oleh Ing Sun diadaptasi dari bahasa Kaili dialek Rai. Pendiri Nagaya sendiri menguasai bahasa Kaili Rai, karena cukup lama tinggal di Desa Lero, Kecamatan Sindue, Pantai Barat-Kabupaten Donggala. Nagaya sama artinya Nadoli dalam bahasa Kaili dialek Ledo yang berarti yang cantik dan menarik. Tentunya dengan harapan membawa rezeki bagi pengelolanya dengan cara menarik.

Racikan kopi yang enak mestilah berasal dari bahan pilihan dan digoreng sendiri tanpa ada campuran. Dalam sepekan, Nagaya bisa menghabiskan 10 kg biji kopi yang kemudian digoreng sendiri. “Dulu sebelum ada mesin giling, kopinya ditumbuk dengan alu di Gunung Bale, tapi sekarang sudah pakai mesin gilingan yang ada di pasar,” kata Ing Sun.

Pada saat masih jaya-jayanya pelabuhan Donggala, warung dibuka sejak subuh sampai malam. Pelanggan waktu itu sangat banyak, terutama orang dari pelabuhan, sehingga karyawannya pun sampai tiga orang. Kemudian sejak tahun 1982 mulai pindah ke tempat depan rumah (deretan ruko) dengan jam buka pukul 07.30 sampai 15.00 Wita. Kini sejak sepekan ini kembali lagi ke kediaman tempat semula.Jadi memang nagaya dan narasampuu. Peracik pertamanya saja langsung dari Negeri Cina yang kini jadi legenda kota tua.*

JAMRIN AB