Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mengutuk pengeboman itu dan meminta pihak berwenang memberikan bantuan medis terbaik kepada para korban.
Tidak jelas apakah ulama terkenal Rahimullah Haqqani, yang sedang memberikan ceramah saat bom meledak, termasuk di antara yang terluka.
Mohammad Asim, juru bicara Rumah Sakit Lady Reading, mengatakan tujuh siswa tewas dan mereka menerima 70 orang terluka lainnya, kebanyakan siswa madrasah itu. Rumah sakit terpisah merawat 42 lainnya.
Serangan itu terjadi beberapa hari setelah intelijen Pakistan memperingatkan bahwa militan kemungkinan menarget tempat-tempat umum dan gedung-gedung penting, termasuk madrasah dan masjid di berbagai penjuru Pakistan, termasuk Peshawar.
Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di Peshawar yang merupakan ibu kota Provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang berbatasan dengan Afghanistan. Provinsi ini telah menjadi sasaran serangan militan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kekerasan sektarian juga sering terjadi di sana.
Serangan terbaru ini terjadi dua hari setelah pengeboman di kota di barat daya, Quetta, yang menewaskan tiga orang. Taliban Pakistan telah menargetkan tempat-tempat umum, sekolah, masjid, dan militer di seluruh negeri sejak 2001, sewaktu negara Islam ini bergabung dengan perang melawan teror yang dipimpin AS menyusul serangan 11 September di Amerika Serikat.
Sejak itu, para pemberontak telah menyatakan perang terhadap pemerintah Pakistan dan melakukan berbagai serangan, termasuk serangan brutal terhadap sebuah sekolah yang dikelola tentara di kota Peshawar pada 2014 yang menewaskan 140 anak dan beberapa guru.***






