Tohari menuturkan setiap karyanya selalu menyisipkan pengetahuan tentang kemanusiaan, politik, dan juga makna tentang kehidupan. Ia menjelaskan tujuannya tidak bermaksud untuk mengkritik siapa pun di dalam novel – novelnya.
Tanpa rasa bosan, Tohari terus – menerus memberikan kontribusi dalam dunia tulis – menulis. Ia pun sempat mengikuti International Writing Program di Lowa, Amerika Serikat (AS) pada 1990. Karya – karya Tohari telah diterbitkan dalam berbagai bahasa, Bahasa Jepang, China, Belanda, dan Jerman. Untuk edisi bahasa Inggris novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, Jantera Bianglala yang diterbitkan Lontar Foundation dalam satu bukunya berjudul “The Dancer” diterjemahkan oleh Rene T.A. Lysloff. Pada tahun 2011, novel Ronggeng Dukuh Paruk ini dijadikan sebagai sebuah film berjudul Sang Penari yang disutradarai Ifa Istansyah.
Film ini memenangkan 4 piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2011. Sampai detik ini, Ahmad Tohari masih saja menyumbangkan ide dan pikirannya untuk terus melestarikan bahasa Banyumas (Jawa) melalui tulisan – tulisannya di media lokal di Banyumas Jateng. Ia adalah sastrawan dan budayawan yang patut dihargai atas karya – karya yang telah mendunia melalui novel – novel.
Era moderenisasi saat ini, masih banyak anak muda generasi ‘Z’ yang sudah tidak lagi suka dengan membaca novel, buku bahkan artikel di sebuah media (elektronik maupun cetak) yang masih ada saat ini. Di mana novel – novel menarik yang diangkat dari kehidupan masyarakat sekitar, politik, pendidikan ataupun sejarah Indonesia di masa lampau.
Generasi ‘Z’ ini dapat dikategorikan, bahwa kebiasaan untuk membaca bagi kalangan generasi ‘Z’ cenderung menurun. Sehingga menyebabkan kurangnya informasi, pengetahuan bahkan tidak mengetahui sejarah- sejarah yang ada di Indonesia maupun di dunia. Oleh sebab itu, novel – novel yang mengangkat kisah sejarah, pendidikan, politik harus lebih banyak digalakkan kembali dan disosialisasikan dengan semenarik mungkin agar kalangan muda generasi ‘Z’ menjadi tertarik untuk melestarikan dan membudayakan membaca.
Tohari mengemukakan dan memberikan ide serta masukannya kepada generasi muda saat ini, sebab ia melihat generasi muda saat ini tidak lagi mempunyai wadah dalam ajang menulis cerpen dan sudah banyak dari generasi saat ini yang tidak lagi membaca buku.
Ahmad Tohari adalah sosok budayawan dan sastrawan yang sangat aktif untuk terus melestarikan kebudayaan lokal di kotanya. Ia juga melestarikan bahasa lokal di daerahnya dengan menuliskan artikel – artikel di surat kabar lokal sampai dengan sekarang, walaupun dirinya tidak lagi menulis novel.
Tohari pun menuturkan bahwa novelis muda saat ini jangan hanya menuliskan tentang percintaan namun juga sisipkan tentang edukasi tentang sejarah, ataupun hal yang lainnya sehingga masyarakat yang membaca bisa cerdas dan tidak cengeng.
Kiat dan tips agar bisa menjadi penulis yang handal adalah jangan pernah takut gagal, teruslah membaca dan menulis agar wawasan menjadi terbuka dan menambah ilmu pengetahuan.
Alasan dalam mengangkat profil Ahmad Tohari, lantaran sosoknya yang memberikan dedikasi lewat ilmu tulis menulisnya sampai dengan saat ini. Walaupun Tohari sudah merasa bahwa karyanya akan terus ada sampai dengan nanti, namun kondisinya yang sudah tidak sehat lagi. Tekatnya yang patut dijadikan teladan karena tetap menjunjung tinggi serta terus melestarikan bahasa daerahnya. Tujuannya agar anak – anak atau generasi muda tidak lupa dengan bahasa sebagai akar kebudayaan guna menunjukan jati diri dan identitas bangsa.
Penghargaan
- Cerpen jasa – jasa buat Sanwirya mendapat hadiah hiburan sayembara Kincir Emas yang diselenggarakan oleh Radio Nederlands Wereldomroep (1975).
- Novel Kubah (1980) memenangi hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1980.
- Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986) meraih hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1986.
- Novel Di Kaki Bukit Cibalak mendapat hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun (1979).
- Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award (1995).
- Hadiah Sastra Rancage (2007).






