LEGENDA AHMAD TOHARI SASTRAWAN DAN BUDAYAWAN YANG DITUDUH KOMUNIS

oleh -
Ahmad Tohari

Oleh: FAJARIA CITRADARA


Ahmad Tohari adalah anak kelima dari dua belas bersaudara yang lahir di Banyumas, Kabupaten Purwokerto, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Sosok Ahmad Tohari yang akrab disapa Tohari sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Di mana karya – karya Tohari ini sudah banyak beredar, bahkan telah diterbitkan dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Jepang, China, Belanda, dan Jerman. Dalam kesempatan wawancara melalui video call, ia mengaku tertarik menjadi penulis karena kepuasan batin dan itu salah satu passionnya ketika masih di usia remaja. Kala itu, Tohari juga gemar membaca buku.

Kegemarannya tersebut dimulai sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Banyumas. Kegemarannya termotivasi dan terpengaruh untuk membuat cerita pendek (cerpen). Cerpen yang di pertama kali ia buat dan diterbitkan pada tahun 1971. Yang mendasari Ahmad Tohari dalam menuliskan sebuah novel adalah nilai- nilai kemanusiaan yang tidak terlaksana seperti kemiskinan, penindasan, dan lain – lain. Ahmad Tohari pun tertarik menjadi penulis dikarenakan passion yang ia inginkan sejak masa remaja, sekalipun tidak dapat menghasilkan banyak uang, menurut Ahmad Tohari ia dapat membuka wawasannya dengan menjadi penulis.

Ahmad Tohari telah banyak malang – melintang di dunia jurnalistik,
Ia pernah menjadi redaktur (editor) harian Merdeka, majalah Keluarga, dan juga majalah Amanah. Ia mulai menulis novel pertamanya yaitu “Ronggeng Dukuh Paruk” yang menjadi awal terbitnya trilogi pertamanya pada 1980. kemudian diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 1982. Karya trilogi ini, Tohari sempat dituding sebagai komunis karena novel “Ronggeng Dukuh Paruk”. Di mana novel tersebut menceritakan tentang kisah nyata yang ia rasakan dan lihat di depan mata.

Ahmad Tohari telah banyak malang – melintang di dunia jurnalistik,
Ia pernah menjadi redaktur (editor) harian Merdeka, majalah Keluarga, dan juga majalah Amanah. Ia mulai menulis novel pertamanya yaitu “Ronggeng Dukuh Paruk” yang menjadi awal terbitnya trilogi pertamanya pada 1980. kemudian diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 1982. Karya trilogi ini, Tohari sempat dituding sebagai komunis karena novel “Ronggeng Dukuh Paruk”. Di mana novel tersebut menceritakan tentang kisah nyata yang ia rasakan dan lihat di depan mata.

Tohari sempat diinterogasi selama beberapa hari, sampai pada akhirnya ia memberikan penjamin bahwa ia bukanlah komunis seperti yang ditudingkan. Penjamin yang dimaksud adalah Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Melalui jaminan dari Gus Dur, akhirnya Tohari dibebaskan.

Selanjutnya, ia menulis novel kedua yang diterbitkan sebagai novel lanjutan dari Ronggeng Dukuh Paruk, yaitu ‘Lintang Kemukus Dinihari’ 1985. Kemudian Menyusul novel selanjutnya dengan berjudul ‘Jantera Bianglala’ 1986. Dalam penyusunan novel ini, Tohari menganggap rasa kemanusiaan harus diutamakan, karena hal ini berkaitan dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

Menurut Ahmad Tohari pembuatan novel tergantung dari berat atau ringannya sebuah materi yang di buat olehnya. Contoh ketika ia menuliskan novel Ronggeng Dukuh Paruk yang ia tulis pun membutuhkan waktu 14 tahun untuk di rampungkan. Di tahun 1980, Tohari pernah mendapat uang sebesar Rp 1 juta yang di berikan oleh Fuad Hasan dan Daud Yusuf. Tohari merasa bahwa dengan karya – karyanya ia diakui oleh masyarakat akan eksistensi dan keberadaanya sebagai cerpenis.

Karya Ahmad Tohari juga di pengaruhi oleh sastrawan lain seperti Arswendo, dan beberapa sastrawan lainnya di Indonesia maupun di Luar Negri. Ahmad Tohari menuturkan jika dia sangat menyukai semua sastrawan di Indonesia dan di Luar Negeri, sehingga ia dapat belajar dari beberapa karya sastrawan dan budayawan lainnya.

Ahmad Tohari menyukai semua hasil karyanya, karena kerja keras yang ia lalui dalam setiap karyanya. Pengaruh karya Tohari terhadap para pembacanya dapat dilihat dari data yang ia berikan.

Novel yang dicetak ulang dan diterbitkan dengan cetakan ke – 18 menjadi karya yang dapat nikmati sampai detik ini selama kurun waktu 40 tahun. Tohari menjelaskan dalam menulis, terkadang terdapat kendala yang menyebabkan ide itu tiba – tiba hilang. Ia menyebutkan bahwa kondisi sosial dan politik yang terjadi di Indonesia, kemanusiaan serta kehidupan masyarakat sosial yang ia lihat dan ia tidak dapat ungkapkan dapat dengan mudah ia tuangkan ke dalam sebuah novel. Tohari berpendapat bahwa kondisi politik saat ini sangat memprihatinkan, dimana masyarakat dan generasi muda saat ini tidak perduli akan kemajuan bangsa.

Tohari menuturkan setiap karyanya selalu menyisipkan pengetahuan tentang kemanusiaan, politik, dan juga makna tentang kehidupan. Ia menjelaskan tujuannya tidak bermaksud untuk mengkritik siapa pun di dalam novel – novelnya.

Tanpa rasa bosan, Tohari terus – menerus memberikan kontribusi dalam dunia tulis – menulis. Ia pun sempat mengikuti International Writing Program di Lowa, Amerika Serikat (AS) pada 1990. Karya – karya Tohari telah diterbitkan dalam berbagai bahasa, Bahasa Jepang, China, Belanda, dan Jerman. Untuk edisi bahasa Inggris novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, Jantera Bianglala yang diterbitkan Lontar Foundation dalam satu bukunya berjudul “The Dancer” diterjemahkan oleh Rene T.A. Lysloff. Pada tahun 2011, novel Ronggeng Dukuh Paruk ini dijadikan sebagai sebuah film berjudul Sang Penari yang disutradarai Ifa Istansyah.

Film ini memenangkan 4 piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2011. Sampai detik ini, Ahmad Tohari masih saja menyumbangkan ide dan pikirannya untuk terus melestarikan bahasa Banyumas (Jawa) melalui tulisan – tulisannya di media lokal di Banyumas Jateng. Ia adalah sastrawan dan budayawan yang patut dihargai atas karya – karya yang telah mendunia melalui novel – novel.

Era moderenisasi saat ini, masih banyak anak muda generasi ‘Z’ yang sudah tidak lagi suka dengan membaca novel, buku bahkan artikel di sebuah media (elektronik maupun cetak) yang masih ada saat ini. Di mana novel – novel menarik yang diangkat dari kehidupan masyarakat sekitar, politik, pendidikan ataupun sejarah Indonesia di masa lampau.

Generasi ‘Z’ ini dapat dikategorikan, bahwa kebiasaan untuk membaca bagi kalangan generasi ‘Z’ cenderung menurun. Sehingga menyebabkan kurangnya informasi, pengetahuan bahkan tidak mengetahui sejarah- sejarah yang ada di Indonesia maupun di dunia. Oleh sebab itu, novel – novel yang mengangkat kisah sejarah, pendidikan, politik harus lebih banyak digalakkan kembali dan disosialisasikan dengan semenarik mungkin agar kalangan muda generasi ‘Z’ menjadi tertarik untuk melestarikan dan membudayakan membaca.

Tohari mengemukakan dan memberikan ide serta masukannya kepada generasi muda saat ini, sebab ia melihat generasi muda saat ini tidak lagi mempunyai wadah dalam ajang menulis cerpen dan sudah banyak dari generasi saat ini yang tidak lagi membaca buku.

Ahmad Tohari adalah sosok budayawan dan sastrawan yang sangat aktif untuk terus melestarikan kebudayaan lokal di kotanya. Ia juga melestarikan bahasa lokal di daerahnya dengan menuliskan artikel – artikel di surat kabar lokal sampai dengan sekarang, walaupun dirinya tidak lagi menulis novel.

Tohari pun menuturkan bahwa novelis muda saat ini jangan hanya menuliskan tentang percintaan namun juga sisipkan tentang edukasi tentang sejarah, ataupun hal yang lainnya sehingga masyarakat yang membaca bisa cerdas dan tidak cengeng.

Kiat dan tips agar bisa menjadi penulis yang handal adalah jangan pernah takut gagal, teruslah membaca dan menulis agar wawasan menjadi terbuka dan menambah ilmu pengetahuan.

Alasan dalam mengangkat profil Ahmad Tohari, lantaran sosoknya yang memberikan dedikasi lewat ilmu tulis menulisnya sampai dengan saat ini. Walaupun Tohari sudah merasa bahwa karyanya akan terus ada sampai dengan nanti, namun kondisinya yang sudah tidak sehat lagi. Tekatnya yang patut dijadikan teladan karena tetap menjunjung tinggi serta terus melestarikan bahasa daerahnya. Tujuannya agar anak – anak atau generasi muda tidak lupa dengan bahasa sebagai akar kebudayaan guna menunjukan jati diri dan identitas bangsa.

Penghargaan

  • Cerpen jasa – jasa buat Sanwirya mendapat hadiah hiburan sayembara Kincir Emas yang diselenggarakan oleh Radio Nederlands Wereldomroep (1975).
  • Novel Kubah (1980) memenangi hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1980.
  • Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986) meraih hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1986.
  • Novel Di Kaki Bukit Cibalak mendapat hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun (1979).
  • Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award (1995).
  • Hadiah Sastra Rancage (2007).