Pembentukan Majelis Dzurriyat Guru Tua Sesuai Pesan Dalam Al-Qur’an

oleh -
oleh
Foto: Istimewa

PosRakyat – Keluarga-keluarga yang berasal dari keturunan pendiri Alkhairaat, Sayyid ‘Idrus bin Salim al-Jufri atau Guru Tua, secara resmi telah membentuk Majelis Dzurriyat pada Sabtu, 1 Juli 2023 lalu.

Pembentukan ini dilaksanakan di kompleks makam Guru Tua yang sekaligus membekukan posisi Ketua Utama Alkhairaat yang sebelumnya dipegang oleh Sayyid ‘Alwi bin Saggaf (SAS).

Baca Juga: HBA ke 63 Tahun Kejati Sulteng Sampaikan Capaian Kinerja 

Baca Juga: Pembangunan Saluran di Jalan Soekarno Hatta Palu Diduga Bermasalah, PPK Satker PJN Wilayah III Sulteng Terkesan Tutup Mata

Salah seorang keturunan Guru Tua, Habib Mohsen al-Habsyi mengatakan bahwa, pembentukan Majelis Dzurriyat pada dasarnya merupakan ikhtiar mengikuti pesan di dalam al-Qur`an itu sendiri.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Habib Mohsen al-Habsyi menyampaikan asal usul pembentukan Dzurriyat tersebut.

“Keinginan pihak keluarga membentuk Majelis Dzurriyat sesungguhnya sudah ada sejak tahun lalu, tepatnya setelah Habib Saggaf wafat. Pemikiran ini datang dari orang-orang tua dari tiap keluarga, seperti saya dan Dr. Salim al-Jufri,” ujarnya.

Baca Juga: Sambut Hari Bhakti Adhyaksa Ke-63 Tahun, Kejati Sulteng Laksanakan Anjangsana dan Bakti Sosial 

Baca Juga:  APH Diminta Hukum Seberat – Baratnya Palaku Pencabulan dan Kekerasan Terhadap Anak Dibawah Umur di Touna 

Adapun tujuannya lanjut Habib Mohsen, untuk mengamankan serta melanggengkan ikatan silaturahim antar keluarga. Di dalam organisasi Alkhairaat, pengambilan keputusan-keputusan penting diharapkan melibatkan keluarga.

Pikiran itulah kemudian kata Habib Mohsen, disampaikan pada rapat keluarga dan disambut baik oleh seluruh perwakilan yang hadir. Olehnya, pada momen pengangkatan Sayyid ‘Alwi bin Saggaf sebagai Ketua Utama, pembaiatan dilakukan oleh seluruh perwakilan keluarga ini.

Kemudian Habib Mohsen juga mengatakan, bahwa beberapa poin yang menjadi janji Ketua Utama waktu itu, salah satunya adalah pengambilan keputusan melalui rapat keluarga. Dalam perjalanannya, janji untuk melibatkan keluarga tidak dipenuhi oleh SAS.

Baca Juga: KPK Periksa Dua Saksi Terkait Kasus Korupsi Tukin di Kementerian ESDM

Baca Juga: Meski Banyak Tantangan, Pendidikan Tinggi Harus Optimis Bangunan Indonesia Maju