3. VEGATA
Pasangan ini popular dengan sebutan VEGATA (Vera Gandeng Taufik). Vera Elena Laruni ini merupakan perempuan pertama dalam sejarah politik yang menjadi wakil bupati di Sulawesi Tengah. Wakil Bupati Donggala yang berpasangan Kasman Lassa pada Pilkada 2013 lalu itu hanya berbilang bulan dalam harmonisasi menjabat. Selanjutnya pecah kongsi di tengah jalan, terjadi pertikaian hingga Gubernur Sulteng, Longky dan rakyat turun tangan mendamapikan Kasman-Vera.
“Sebagai wakil bupati, saya tidak diberi peran dan peluang dalam menjalankan tugas. Bagaimana saya bisa berperan, karena itu saya menyatakan maju sebagai calon bupati untuk membuktikan kelak saya jbisa berperan secara adil. Vegata akan menjalankan amanah sesuai aturan,” kata Vera dalam setiap kampanye.
Vera Elena Laruni sebelum terjun ke politik, memiliki latar belakang pengusaha. Ayahnya seorang politisi yangcukup dikenal dan lama berkiprah di PDI. Kehadirannya di ranah pertarungan politik di Donggala menguatkan dirinya dengan dukungan publik. Apalagi pengalaman selama empat tahun terakhir sebagai wakil bupati memiliki kesempatan dekat dengan rakyat dan mendengar berbagai curahan mereka menjadi modal untuk ikut bertarung. Meskipun kadang ada oknum berupaya menghembuskan isu SARA agar tidak memilih Vera, tetapi baginya tidak jadi kendala. Sebab secara demokratis agama apapun selama diakui tidak ada masalah. Karena itu pula atas dukungan tokoh-tokoh agama Islam di Donggala yang cukup kuat terhadap Vera menjadi modal kekuatan dan spirit bagi Vera ikut pertarungan Pilada.
Kehadiran Taufik M. Burhan yang pernah dinonjobkan dari jabatan camat oleh Bupati Kasman Lassa sebagai pendamping Vera diyakini dapat meraup suara. Terutama dapat memecah suara pemilih di tiga kecamatan (Sindue, Sindue Tombusabora dan Sindue Tobata) yang merupakan daerah asal kekerabatan Taufik bersama kasman dan Yasin. Selain itu koalisi pendukung dari Partai GOLKAR, PKB, Demokrat dan PKPI cukup kuat memberi spirit pasangan VEGATA. Ditambah turunya tokoh-tokoh politik senior Sulteng dalam kampanye menjadi daya tarik tersendiri, seperti Rusdy Mastura (mantan Wali Kota Palu), Helmy D. Yambas (Plt Ketua DPD Golkar Donggala), Mohammad Irwan Lapata (Bupati Sigi), Abdul Muis Yahya (mantan anggota DPRD Donggala) dan beberapa tokoh lainnya.
4. IYAMO
Idham Pagaluma-Mohammad Yasin Lataka. Pasangan yang disingkat IYAMO ini satu-satunya yang bertarung melalui jalur perseorangan dan nyaris gagal. Sebab dua kali mengalami TMS (tidak memenuhi syarat) dalam proses tahapan perbaikan syarat dukungan. Tetapi tim yang solid dan militant yang dimiliki IYAMO terus melakukan “perlawanan” dengan gugatan terhadap Komisi pemilihan Umum (KPU) melalui Panwas Kabupaten Donggala, akhirnya IYAMO kemudian dinyatakan menang. Secara otomatis dilakukan penetapan nomor urut keempat menyesuaikan tiga pasangan yang lebih awal ditetapkan.
Idham Pagaluma pensiunan Syahbandar Pantoloan tersebut adalah seorang petarung dengan jargon “dakwah dan sedekah.” Pada Pilkada 2013 lalu ia menjadi calon wakil bupati mendampingi Burhanuddin Yado yang disebut BI (Burhan-Idham). Selama ini Idham Pagaluma dikenal dengan gerakan sosial dan dakwanya memberi bantuan air gratis melalui mobil tangki ke desa-desa yang kesulitan air bersih di Kecamatan Banawa, Banawa Tengah dan sekitarnya. Begitu pula dengan ambulance gratis sejak lama melakukan pelayanan terhadap orang-orang berduka yang tak mampu, sehingga cukup dekat dengan akar rumput yang secara ril menjadi pendulang suara. Hal itu dibuktikan saat Pilkada 2013 lalu, pasangan BI menempati perolehan suara terbanyak keempat dan terbanyak pertama di Kecamatan Banawa dan Labuan.
Sejak awal Idham Pagaluma bergerak di bidang usaha tambang yang terbilang sukses menjadi sumber dana politiknya, selain aktivitas sosial yang tidak terlupakan bagi akar rumput. Sedangkan Mohammad Yasin Lataka yang bergerak di bidang swasta dan profesi konsultan pajak ini memiliki kekerabatan keluarga di Balaesang dan Balaesang Tanjung yang cukup besar, diyakini dapat meraup suara dalam pertarungan. Yasin yang masih terbilang generasi muda merupakan pendatang baru dalam pemilihan kepala daerah, salah satu daya tarik dalam menggalang calon pemilih pemula.
Akankah incumbent kembali melenggang atau tumbang? Terjawab pada tanggal 27 Juni 2018 mendatang.*
Penulis; JAMRIN ABUBAKAR






