“Sebagai contoh, ketika taxi online seperti Grab dan Gojek ramai di Indonesia, orang banyak yang demonstrasi sementara kebijakan pemerintah belum ada. Itulah yang paling terlambat,” ujarnya Muhammad Nuh.
Olehnya kata Muhammad Nuh, insen pers harus bisa mengikuti perkembangan teknologi itu arahnya kemana. Dengan begitu bisa dijadikan gaidens untuk bisa melakukan perubahan – perubahan. Muhammad Nuh mengingatkan bahwa kata yang paling tidak nyaman adalah keterlambatan. Terlambat melakukan perubahan, bisa punya konsekuensi beragam. Ada yang biasanya untung besar sekarang tinggal untung sedikit, ada yang tadinya untuk menjadi rugi, bahkan ada yang sampai bangkrut perusahaannya gara – gara terlambat melakukan perubahan.
Saatnya sekarang, insan pers melakukan percepatan perubahan sesuai dengan tren dari perkembangan teknologi itu sendiri.
“Kami sangat menyarakan bagaimana kita migrasi dari fisikal space atau yang fisik, memasuki wilayah siber atau hibred yakni kombinasi fisikal space dan siber. Sebab bukan yang paling kuat yang akan bisa bertahan, bukan yang paling pinter, tapi siapa yang melakukan perubahan dengan mengikuti perkembangan teknologi, maka itu yang akan bisa bertahan,” tandas Mantan Menteri Pendidikan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.***






