Pesan Ketua Dewan Pers Bagi Insan Pers di Indonesia

oleh -
Ketua Dewan Pers, Prof. Dr. Muhammad Nuh saat memukul gong tanda dibukanya secara resmi konvesi pers nasional. Foto: Ist

PosRakyat – Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Muhammad Nuh secara resmi membuka konvesi pers nasional yang merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2022. Kegiatan ini berlangsung selama dua dimulai dari tanggal 7 – 8 Februari 2022 bertempat di Hotel Claro Kota Kendari.

Muhammad Nuh dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Ali Mazi yang telah bersedia menjadi tuan rumah pelaksanaan HPN tahun 2022 dan menyediakan berbagai fasilitas untuk kelancaran pelaksanaan HPN.

“Atas nama dewan pers dan insan pers, saya mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Sulawesi Tenggara yang bersedia menjadi tuan rumah HPN,” kata Muhammad Nur.

Selain itu, Muhammad Nuh mengingatkan kepada semua media agar segera melakukan perubahan dengan mengikuti tren perubahan teknologi yang begitu cepat jika tidak mau ketinggalan. Sebab kata Muhammad Nuh, perubahan yang paling cepat adalah teknologi, baru perubahan pada orang perorang, disusul perubahan di dunia bisnis dan yang paling lambat ada kebijakan publik.

“Sebagai contoh, ketika taxi online seperti Grab dan Gojek ramai di Indonesia, orang banyak yang demonstrasi sementara kebijakan pemerintah belum ada. Itulah yang paling terlambat,” ujarnya Muhammad Nuh.

Olehnya kata Muhammad Nuh, insen pers harus bisa mengikuti perkembangan teknologi itu arahnya kemana. Dengan begitu bisa dijadikan gaidens untuk bisa melakukan perubahan – perubahan. Muhammad Nuh mengingatkan bahwa kata yang paling tidak nyaman adalah keterlambatan. Terlambat melakukan perubahan, bisa punya konsekuensi beragam. Ada yang biasanya untung besar sekarang tinggal untung sedikit, ada yang tadinya untuk menjadi rugi, bahkan ada yang sampai bangkrut perusahaannya gara – gara terlambat melakukan perubahan.

Saatnya sekarang, insan pers melakukan percepatan perubahan sesuai dengan tren dari perkembangan teknologi itu sendiri.

“Kami sangat menyarakan bagaimana kita migrasi dari fisikal space atau yang fisik, memasuki wilayah siber atau hibred yakni kombinasi fisikal space dan siber. Sebab bukan yang paling kuat yang akan bisa bertahan, bukan yang paling pinter, tapi siapa yang melakukan perubahan dengan mengikuti perkembangan teknologi, maka itu yang akan bisa bertahan,” tandas Mantan Menteri Pendidikan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.***