“Saya bukan hanya demo di Sulteng. Saya khatam urusan demo begini. Jadi kalau ada demonstrasi sampai dini hari, menutup akses jalan antara provinsi, bahkan menyebabkan korban jiwa, saya patut bertanya, apa agenda sebenarnya di balik demo itu dan siapa pendana-nya?” ujarnya.
Oleh sebab itu, Habib Sadig juga meminta aparat dan pemerintah untuk menelusuri agenda di balik demonstrasi serta mengungkap otak di balik demo yang menyebabkan kematian warga.
“Kematian adalah takdir. Tetapi kita boleh merekonstruksi penyebabnya untuk belajar. Bila demo pada hari Sabtu yang lalu dilaksanakan sesuai aturan, tidak ada korban jiwa.
“Karenanya, saya berharap Polri tidak berhenti pada kasus penembakan. tetapi juga mengungkap pihak-pihak yang berkepentingan di balik kerusuhan aksi masa terkait tambang emas di Parigi Moutong itu,” tegasnya.
Habib Sadig juga merasa heran dengan sikap Gubernur Sulteng H. Rusdy Mastura yang selama ini diketahui tidak alergi untuk menemui masa demonstrasi.
“Jangankan menemui masa demonstrasi, menenangkan kerusuhan saja beliau berani berada di tengah-tengah masa saat terjadi kerusuhan antara Nunu-Tavanjuka beberapa tahun lalu. Yang saya tahu, beliau tidak alergi menemui rakyatnya,” kata sadiq.
Ia pun mencurigai adanya pihak-pihak tertentu yang menghalangi kedatangan Gubernur Rusdy Mastura untuk menemui masa unjuk rasa di Parigi Moutong, seperti yang diinginkan masyarakat yang sedang demo.
“Ini juga harus dicari benang merahnya. Saya rasa curiga sah-sah saja, jangan-jangan ada yang mendesain agar demo itu jadi chaos. Di mana-mana yang namanya demo, ada-ada saja yang jadi provokator,” ungkap Habib Sadig.
“Karena itu, saya berharap aparat kepolisian bukan hanya sebatas mengusut pelaku penembakan, tetapi benar-benar mengusut hingga tuntas termasuk aktor di balik demo yang menimbulkan korban jiwa di Parigi Moutong,” tegasnya. ***






