“Seringnya kota tua Donggala menjadi obyek kajian berbagai aspek ilmiah, menunjukkan kalau kota tersebut memang memiliki sejarah dan heritage yang perjalanannya cukup panjang. Tinggal bagaimana pemerintah daerah melakukan suatu respon berupa penyediaan fasilitas berupa pusat informasi berbagai hal mengenai kota itu,” kata Zulkifly.
Selama ini para peneliti dari luar yang melakukan kajian di Donggala tidak banyak mendapatkan informasi atau data dari pihak pemerintah Kabupaten Donggala. Melainkan mereka melakukan upaya sendiri di lapangan tanpa bisa berharap banyak pada pemerintah daerah, padahal seyogianya lembaga semacam Dinas Arsip banyak menyediakan data.
“Tetapi sayang, saya pernah ke Dinas Arsip Kabupaten Donggala mencari beberapa data atau dokumen yang dibutuhkan terkait penelitian tapi tidak ada tersedia. Hal ini perlu dibenahi mengingat, Donggala sebagai kabupaten tertua sekaligus cukup diminati para peneliti,” kata seorang sejarawan yang tesisnya tentang wisata budaya Donggala. (JAMRIN AB)






