“Hal ini membuat permintaan terhadap dolar AS sebagai mata uang safe haven kembali meningkat lagi,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/11).
Selain itu, sentimen internal dari Negeri Paman Sam kembali hadir, yaitu rapat bulanan bank sentral AS, The Federal Reserve pada minggu depan. Menurutnya, prospek kenaikan bunga acuan The Fed pada bulan depan masih bias, namun masih ada kepercayaan dari pasar bahwa The Fed akan tetap melancarkan rencananya untuk kembali mengerek bunga acuan.
Sementara sentimen dari Eropa yang kemarin sempat menguntungkan rupiah sudah sirna seketika. Sentimen itu berupa persetujuan Uni Eropa terhadap proposal keluarnya Inggris dari zona Eropa (Britania Exit/Brexit) dan peninjauan kembali batas defisit anggaran Italia.
Ia bilang sentimen ini pudar karena Trump baru saja mengomentari langkah Inggris untuk keluar dari Uni Eropa. Trump melihat hal ini justru bisa membahayakan hubungan perdagangan AS dengan Inggris. “Hal ini langsung di-respons negatif, sehingga poundsterling Inggris melemah cukup dalam,” terang dia.
Sayangnya, dari dalam negeri, sentimen positif berupa kenaikan imbas hasil (yiedl) surat utang pemerintah justru tak berhasil menggerakkan mata uang Garuda. “Padahal, ini artinya demand (permintaan) terhadap obligasi Indonesia sebenarnya tinggi lagi dan bisa positif bagi arus modal asing,” jelasnya.
Untuk hari esok, Dini memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp14.350-14.640 per dolar AS dengan kecenderungan masih melemah karena minim sentimen positif baru.
Sumber: CNN Indonesia






