Ia mendesak pemerintah pusat dan provinsi untuk tidak lagi bersandiwara dan segera mengambil tindakan konkret. Evaluasi total, audit menyeluruh, dan percepatan penyelesaian wajib dilakukan sebelum musim tanam 2025 datang.
“Kalau dibiarkan, ini bukan sekadar kerugian anggaran, ini adalah pengkhianatan terhadap rakyat dan penghancuran cita-cita swasembada pangan nasional!” ucapnya lantang.
Hal senada disampaikan Yusuf A. Mappiasse, tokoh pemuda Kabupaten Tolitoli yang menyebut bahwa pembangunan Daerah Irigasi (D.I.) Salugan sejak awal telah membawa harapan besar. Tapi kini, harapan itu berubah menjadi luka yang terbuka.
“Hampir delapan tahun, tapi saluran tersier di Desa Sibea dan sekitarnya masih nihil. Apa gunanya bendungan kalau airnya tak sampai ke sawah?” ujar Yusuf.
Ia pun meminta agar pembangunan segera diselesaikan dan saluran pengairan dipercepat agar petani tidak lagi terkatung-katung dalam ketidakpastian.
“Kami tidak butuh janji manis, kami butuh air untuk sawah kami! Jangan biarkan petani jadi korban dari proyek yang setengah hati!” harapnya.
Sebagai informasi, Bendung Salugan adalah proyek Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III Palu, dibawah Direktorat Jenderal SDA, Kementerian PU. Proyek ini dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya dengan nilai kontrak sekira Rp 212,3 miliar.
(MYF)






