Seusai magrib dan isya, seusai menyiapkan berbagai hal dengan kesigapan seorang seniman yang paham betul dengan keterbatasan sarana dan benda-benda pendukung namun dengan modal enerji dan kreatifitas yang tak pernah putus, Endeng Mursalin mondar mandir sambil membagikan selebaran fotocopy kepada publik disekitar lokasi yang dia ubah menjadi suatu ruang imajiner, ruang kemungkinan untuk suatu peristiwa yang akan diciptakannya. Sebagai seniman yang menyadari bahwa di wilayahnya sangat terbatas dalam sarana, maka jalan yang dipilih oleh Endeng Mursalin adalah bagaimana memanfaatkan apapun yang ada di sekitarnya. Dalam konteks inilah ketika lokasi kebakaran itu telah reda dan merangsang gagasan untuk performance art, maka Endeng Mursalin meresapkan semua elemen non-bendawi yang ada di sekitarnya.
Malam itu, dengan dada telanjang dan melontarkan berbagai ungkapan sehubungan dengan situasi dan kondisi zaman pos-reformasi serta situasi-kondisi kemanusiaan kita yang ditantang untuk mengatasi zaman, sementara kondisi dan tingkah laku politik jauh dari harapan, memuncratkan pernyataan tentang krisis demi krisis, dan Endeng Mursalin memberikan isyarat kepada siapapun bahwa ketelanjangan diri sebagai manusia sesungguhnya merupakan wujud eksistensial di dalam kehidupan kebudayaan.
Dan Endeng bukanlah Endeng Mursalin di antara ledakan kemarahannya tapi bukan kemarahan emosional, disitu pula dia mengekspresikan dirinya sebagai sosok yang bersahaja. Dia duduki tempat buang air besar itu setelah dia melepas separuh celananya lalu mengambil selembar Koran. Bagaikan orang yang sedang buang air besar sambil membaca Koran dia sampaikan ekspresi keseniannya dengan penuh humor cerdas (wit humor) yang terasa pahit namun membuat orang tersenyum getir, mengajak ke dalam perenungan tentang kehidupan dan makna diri sebagai warga sosial.
Menyaksikan dan berusaha memahami Endeng Mursalin dalam konteks posisi dirinya sebagai seniman yang menggeluti dunia senirupa dalam berbagai disiplinnya, kita diajak untuk memasuki suatu ruang pembelajaran tentang makna kesenian di tengah-tengah dan dalam masyarakat, dan di situ pula sang seniman meletakan posisi eksistensialnya: warga kebudayaan yang menyuarakan sesuatu dan memberikan isyarat kepada siapa saja tentang situasi-kondisi zaman. -o0o-






