Polisi Diminta Serius Hentikan Aktivitas PETI Sungai Tabong 

oleh -
oleh
Pengolahan emas menggunakan alat berat dan talang di sekitar Sungai Tabong, Kabupaten Buol. Foto: Ist

PosRakyat – Meski telah dilakukan penertiban oleh aparat kepolisian beberapa bulan lalu, namun saat ini aktivitas penambangan emas tanpa izin (Peti) di Sungai Tabong, Kabupaten Buol, Sulteng semakin brutal.

Informasi dihimpun tim media ini, Minggu 3 Juli 2022, dimana aktivitas penambangan emas ilegal yang berlokasi di wilayah desa Kokobuka kecamatan Tiloan kabupaten Buol itu diduga kuat dibiayai para cukong.

“Sementara yang kami tahu ada empat orang yang menjadi cukong (pemodal) di wilayah tambang Sungai Tabong saat ini,” ungkap sumber yang tak ingin disebut namanya oleh media ini.

Penambangan ilegal disekitar sungai yang juga mengalir hingga desa Janja kecamatan Lampasio kabupaten Tolitoli itu juga diketahui menggunakan puluhan alat berat.

“Sebelumnya hanya menggunakan 10 unit excavator, saat ini telah bertambah sekitar 30 unit excavator,” ungkap sumber lagi.

Pengerukan dengan menggunakan excavator hingga kedalaman sekitar 15 meter untuk mengambil material yang mengandung emas di bantaran sungai tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris LBH Progresif Sulteng, Abd. Razak, SH mengatakan, bahwa kondisi tersebut harus segera dihentikan sebelum dampak kerusakan lingkungan di wilayah Buol dan Tolitoli makin parah.

“Tambang tanpa izin itu sudah jelas akan berdampak buruk kepada masyarakat sekitar. Apalagi yang kami tahu, kegiatan tersebut tidak mempunyai aspek legalitas dan merusak lingkungan,” jelas Abd. Razak yang akrab disapa Puang Aji Cake.

Razak yang juga asal kabupaten Tolitoli ini menyebutkan, beberapa waktu lalu sudah dilakukan penertiban yang dilakukan aparat gabungan. Namun saat ini, ada lagi aktifitas di lokasi penambangan.

Menurut Razak, sangat mungkin akibat aktifitas penambangan tersebut akan memicu bencana banjir bandang, yang merugikan masyarakat Kabupaten Buol dan Tolitoli, terutama di hilir Sungai Tabong.