“Dalam pidato tersebut, Bung Karno menyebut antara lain Indonesia menghadapi tahun yang gawat, konflik sesama anak bangsa, dan seterusnya,” ujarnya.
Menurut Rushdy, opini masyarakat setelah itu memang terkesan dan dikesankan seolah-olah terkait pada kondisi bangsa yang progresif revolusioner. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Suyatno mengatakan pidato-pidato Bung Karno merupakan suatu rentetan dan memiliki benang merah.
“Pidato-pidato Bung Karno menggambarkan perjalanan revolusi Indonesia dari masa ke masa. Revolusi Indonesia mengalami masa-masa krusial dan juga mengalami kemenangan,” katanya.
Penulis Roso Daras mengatakan perlu ada upaya menjembatani pemikiran-pemikiran Bung Karno dengan generasi muda. “Harus ada penafsiran terhadap pidato-pidato dan karya-karya Bung Karno dalam konteks kekinian sehingga generasi muda bisa memahami Bung Karno,” kata penulis Aktualisasi Pidato Terakhir Bung Karno, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah itu.






