Tokoh Perempuan yang Terlupakan: Resonara Bedah Peran Ince Ami dalam Sejarah Al-khairaat

oleh -
oleh
IST

PosRakyat.com – Resonara kembali menggelar diskusi bertajuk “Ngaji Keperempuanan” dengan mengangkat tema “Bedah Tokoh: Intje Ami Sosok Khadijah di Tanah Kaili” dan menghadirkan dua pemantik diskusi, yakni Dwi Pratiwi Lestari S.Pd.I., M.Pd.I selaku Ketua LKP3A Fatayat NU Sulawesi Tengah dan Muhammad Sadig, M.A. Hum, dosen UIN Datokarama Palu, Kamis malam (12/03/2026).

Diskusi yang digelar di Sekretariat PB LS-ADI, Jalan Diponegoro Kota Palu tersebut membedah sosok Intje Ami, istri dari pendiri Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang dikenal sebagai Guru Tua. Selama ini, peran Intje Ami dinilai jarang dibahas dalam forum akademik maupun diskusi publik, meskipun ia memiliki kontribusi penting dalam sejarah perkembangan Al-khairaat di Tanah Kaili.

Baca Juga: Ramadan 1447 H, PSI Distribusikan 50 Ribu Paket Sembako untuk Kader se-Sulteng

Baca Juga: Kadis PUPR Tolitoli Tinjau Posko Mudik Kementerian PU, Pastikan Layanan dan Kenyamanan Pemudik di Jalur Palu–Buol

Dalam pengantarnya, moderator menyampaikan bahwa diskusi ini merupakan bagian dari upaya mengangkat kembali tokoh perempuan lokal yang memiliki peran besar dalam sejarah Islam di Sulawesi Tengah.

“Kita sering membahas tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah Islam seperti Khadijah, Aisyah, atau Fatimah. Namun di Tanah Kaili juga ada sosok perempuan inspiratif, yaitu Intje Ami, yang jarang sekali dibicarakan,” ujarnya.

Ketua LKP3A Fatayat NU Sulawesi Tengah, Dwi Pratiwi Lestari, menilai pentingnya menghadirkan kembali sosok Intje Ami dalam ruang diskusi agar generasi muda tidak kehilangan referensi figur perempuan lokal yang inspiratif.

Menurutnya, Intje Ami dapat dilihat sebagai figur perempuan yang bukan sekadar pendamping, tetapi juga penggerak dalam sejarah. Ia menilai peran Intje Ami memiliki kemiripan dengan Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW, yang turut mendukung perjuangan dakwah Nabi.

“Dalam sejarah Islam, perempuan tidak hanya diposisikan sebagai pendamping, tetapi juga sebagai subjek yang aktif dalam peradaban. Kita bisa melihat itu pada sosok Khadijah maupun Intje Ami yang berperan besar dalam mendukung perjuangan dakwah dan pendidikan,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam perspektif Al-Qur’an, perempuan ideal digambarkan memiliki sejumlah kemandirian, seperti kemandirian ekonomi, kemandirian dalam menentukan pilihan, serta peran sosial dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, dapat ditemukan dalam figur Intje Ami.

Sementara itu, dosen UIN Datokarama Palu, Muhammad Sadig, menekankan bahwa peran Intne Ami sangat penting dalam sejarah berdirinya lembaga pendidikan Al-khairaat. Sadig menjelaskan bahwa Ince Ami bukan hanya memberikan dukungan moral kepada Guru Tua, tetapi juga dukungan ekonomi.

“Intje Ami dikenal memiliki kekayaan yang kemudian digunakan untuk membantu perjuangan dakwah dan pendidikan Guru Tua. Sekolah pertama Al-khairaat bahkan berdiri di bawah rumah beliau di Kampung Baru,” ungkapnya.

Selain itu, Sadig juga menyebut bahwa Intje Ami turut mendorong perubahan dalam pemikiran Guru Tua, termasuk dalam hal pendidikan perempuan.