Waduh! Baru 6 Bulan, Bendung DI Winangun Senilai Rp10 Miliar Sudah Rusak Berat

oleh -
Bronjong penahan hilir landasan bendungan DI Winangun Kabupaten Buol sudah jebol dan ambruk. (Istimewa)

Buol, Posrakyat.com -Proyek Pembangunan Bendung DI Winangun, Desa Winangun, Kecamatan Bukal, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, yang menelan anggaran Rp 10 miliar  saat ini sudah mengalami kerusakan yang cukup berat.

Baca Juga : Sampah Limbah Medis Berserakan di Tepi Jalan Provinsi Ancam Kesehatan Warga Morut

Baca Juga : Mutu Beton Rendah, Begini Kondisi Bahu Jalan Ruas Mepanga – Pasir Putih

Tonny salah seorang pemerhati kontruksi  di kabupaten Buol menyebutkan, proyek yang dibiayai APBD kabupaten Buol tahun 2018 yang dikerjakan PT Fajar Usaha Nusa (FUN) dengan nilai kontrak Rp9.972.433.000,- itu belum bisa dirasakan serta dinikmati oleh masyarakat. Pasalnya, sebagian pekerjaan seperti bronjong telah jebol dan ambruk. Bahkan, sebagian dinding bendungan juga sudah terlihat retak dan pecah-pecah.

“Bendungan ini baru selesai dikerja bulan Desember 2018, tetapi bronjong penahan tebing sungai sudah ambruk. Proyek ini terkesan dikerjakan asal-asalan oleh rekanan demi mengejar profit semata, sehingga mengabaikan aspek kualitas,” kata Tonny, tokoh pemuda yang juga salah seorang pemerhati jasa konstruksi kabupaten Buol, Kamis (23/5/2019).

Menurut Tonny, dengan hancurnya proyek pembangunan bendungan ini, patut diduga telah merugikan keuangan negara dan daerah, karena sangat tidak sejalan program pemerintah daerah serta espektasi masyarakat.

Olehnya Tony mendesak kepada aparat penegak hukum (APH) untuk segera melakukan penyelidikan dan penyidikan, karena ada dugaan telah terjadi kerugian negara yang nilainya cukup signifikan.

Sementara itu, Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Kabupaten Buol, Dr. Aryan Gafur yang dikonfirmasi mengatakan, pekerjaan Bendungan Winangun telah dikerjakan sesuai spesifikasi (Spek) sebagaimana ditetapkan dalam kontrak.

“Pekerjaan bronjong yang masuk dalam salah satu item pekerjaan juga sudah dilaksanakan sesuai spek. Kerusakan bronjong disebabkan oleh banjir berulang yang membawa material kayu gelondongan dan menghantam dinding bronjong tersebut, sehingga banyak yang rusak,” terang Kadis PUPR via layanan WhatsApp, Kamis (23/5/2019).

Menurut Kadis, banjir yang menerjang bendungan tersebut sebanyak empat kali. Bahkan banjir yang terakhir sampai menyebabkan kerusakan pada pasangan dinding saluran batu kali, sehingga saluran tersebut terputus. “Ini sudah dibuktikan dengan adanya laporan dari pemerintah desa setempat terkait bencana banjir tersebut,” imbuhnya.

Aryan Gafur juga menyebutkan, bahwa bangunan bendung secara konstruksi aman, karena menggunakan pondasi tiang pancang.

Kadis menambahkan, untuk kerusakan bendungan yang sifatnya kecil telah ditangani melalui mekanisme pemeliharaan sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak, di mana kontraktor masih bertanggungjawab dalam masa pemeliharaan selama 6 bulan.

“Selanjutnya akan dilakukan mekanisme penanganan akibat bencana terhadap kerusakan yang berat,” jelasnya. 

Penulis : Agus Gerbek

Editor : Zoel

loading...