Asa Mengapung Di Pelabuhan Pasangkayu

oleh -
Dermaga Pelabuhan Tanasa

Secara geografis, Sulawesi Barat khususnya Pasangkayu sangat strategis. Melihat jaraknya cukup dekat dengan wilayah Kalimantan Timur.

Mengingat kebutuhan dasar bagi ibu kota baru begitu besar, maka pelabuhan laut salah satu hal yang mutlak. Sebagai sarana ekspedisi, pelabuhan mesti dimiliki oleh daerah untuk menunjang pengiriman barang berskala besar.

Beberapa pelabuhan di masing-masing daerah cukup representatif untuk angkut muat, di antaranya pelabuahan Pantoloan dan pelabuhan Taipa (Palu, Sulteng), pelabuhan Mamuju dan Belang-belang (Mamuju, Sulbar), pelabuhan Sukarno-Hatta (Makassar, Sulsel), serta pelabuhan Pare-pare (Sulsel).

Tapi tidak demikian bagi pelabuhan Tanasa, Pasangkayu. Pasalnya, keberadaan pelabuhan tersebut masih menjadi sorotan perihal kondisinya sekarang yang terpantau tidak terawat.

Beberapa tahun terakhir, keberadaan anjungan dermaga yang memanjang hingga ratusan meter ke laut, bagi warga dijadikan spot favorit untuk memancing atau berdarmawisata di akhir pekan.

Sejumlah pihakpun kembali menyoroti keberadaan pelabuhan ini. Salah satunya, politisi Lukman Said yang kerab menyinggung soal pelabuhan Tanasa.

Belum lama ini, Lukman Said menemani rombongan DPRD Sulawesi Barat yang dipimpin Sitti Suraidah turun langsung meninjau pelabuhan Tanasa.

Menurutnya, pelabuhan Tanasa belum berfungsi maksimal. Dan ia juga mempertanyakan keberadaan status kapal yang bersandar di sana, seperti dikutip dari salah satu media.

Anggota DPRD Sulawesi Barat, Abidin juga punya atensi soal pelabuhan Tanasa. Hal itu ia ungkapkan saat reses di Salale yang berjarak tidak jauh dari pelabuhan Tanasa, 11 November 2019.

Menanggapi keluhan warga soal pelabuhan, iapun berjanji akan menindaklanjuti ke pihak terkait.

Pekan lalu di media, Bupati Pasangkayu Agus Ambo Jiwa mengatakan, pelabuhan ini akan berfungsi maksimal jika pihak Kementerian Perhubungan memberikan wewenang penuh kepada pemda.

Hingga hari ini, menurut warga di sekitar pelabuhan, hampir setahun terakhir kapal tanker terlihat bertambat di dermaga memuat CPO milik salah satu perusahaan sawit yang ada di wilayah ini.

Ke depan, mereka berharap aktivitas di pelabuhan tersebut dapat memberi dampak baik bagi kehidupan warga di sana.

Selaku kepala Wilayah Kerja (Wilker) Pelabuhan Pasangkayu, Mansyur membenarkan adanya aktivitas bongkar muat CPO di pelabuhan Tanasa.

Ia mengaku, kegiatan itu sudah sesuai mekanisme dan prosedur. Berdasarkan regulasi, pihaknya memungut biaya tambat bagi kapal yang bersandar dan langsung disetor ke pihak UPP Belang-belang.

Akibat kerusakan di beberapa sisi dermaga yang disebabkan gempa bumi 2018 lalu, rencananya, lanjut Mansyur, tahun 2021 pelabuhan Tanasa kembali mendapat kucuran dana sekira enam belas miliar rupiah untuk perbaikan.

Arham Bustaman