Selangkah Lagi Kabupaten Pasangkayu Bebas Malaria

oleh -
Pose Bersama Seusai Pertemuan Lintas Sektoral Di Hotel Trisakti Pasangkayu Sabagai Tindaklanjut Kegiatan FGD 

Pasangkayu, Posrakyat.com – Di Sulawesi Barat, tersisa kabupaten Pasangkayu yang belum mendapatkan sertifikat eliminasi malaria dari lima kabupaten yang ada.

Untuk itu, Fakultas Kedokteran Unhas Makassar, UNICEF dan Dinkes Kesehatan Sulbar melakukan pendampingan persiapan sertifikasi eliminasi malaria kabupaten Pasangkayu. Hal itu bertujuan untuk menyiapkan kabupaten Pasangkayu mendapatkan sertifikasi eliminasi malaria.

Pendampingan ini dilaksanakan melalui penyelenggaran Focus Grup Discussion (FGD) dan Lokakarya yang melibatkan Dinas Kesehatan, seluruh Puskesmas di kabupaten Pasangkayu, juga lintas sektor terkait, serta masyarakat.

Kegiatan FGD eliminasi malaria telah dilakukan di desa Wulai, kecamatan Bambalamotu dan desa Pakawa, kecamatan Pasangkayu 25 hingga 26 Februari 2020. Kedua desa ini dipilih, karena pada tahun 2017 ditemukan kasus terakhir penularan di kabupaten Pasangkayu.

Meskipun dalam dua tahun terakhir, tak lagi ditemukan adanya kasus malaria di kedua desa ini, namun kewaspadaan terhadap malaria perlu ditingkatkan karena migrasi masyarakat di desa yang berbatasan dengan kabupaten Sulawesi Tengah ini cukup tinggi.

Migrasi ini terutama berasal dari komunitas suku Da’a. Beberapa di antaranya, masih mempunyai kultur nomaden serta mempunyai hubungan kesukuan yang sangat dekat dengan suku Da’a yang sebagian besar mendiami wilayah Sulawesi Tengah.

Dalam kegiatan FGD yang dihadiri perangkat desa, para kepala dusun, bidan desa, tokoh agama, babinsa dan Puskesmas ini, disepakati bersama pencegahan kejadian penularan lokal dengan memaksimalkan surveilans malaria migrasi berbasis masyarakat.

Hal ini dimaksudkan, agar masyarakat terlibat aktif dalam melaporkan dan mengedukasi pendatang dari daerah endemik atau pelintas batas yang ingin memeriksakan diri pada patugas kesehatan.

Diagnosis, pemeriksaan dan pengobatan yang cepat, diharapkan bisa memutus penularan lokal. Apalagi dari hasil penelitian Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar, nyamuk anopheles sebagai vektor malaria, masih banyak ditemukan di kabupaten Pasangkayu.

Secara umum, kejadian malaria di kabupaten Pasangkayu sudah sangat jauh menurun dibandingkan tahun 90an atau awal tahun 2000-an. Sebab, saat itu masih bisa ditemukan ribuan kasus malaria.

Intervensi intensif dari dinas kesehatan dengan pendampingan UNICEF, cukup drastis menurunkan kasus malaria, hingga tidak lagi ditemukan kasus malaria lokal.

Kasus malaria lokal terakhir ditemukan tahun 2017 yang lalu. Pada tahun 2018 ditemukan delapan kasus dan lima kasus di awal tahun 2020 di daerah ini. Disinyalir, semua kasus tersebut, dibawa oleh pendatang, terutama dari Papua dan Kalimantan Timur.

Sabagai tindaklanjut kegiatan FGD yang telah dilakukan, hari Kamis, 28 Februari 2020, dilakukan pertemuan lintas sektoral di Hotel Trisakti, Pasangkayu dengan menghadirkan kelompok kerja eliminasi malaria kabupaten Pasangkayu.

Kegiatan ini dihadiri unsur pemerintah kecamatan, kepala Puskesmas dan OPD terkait seperti Dinas PU, PMD, Kominfo, Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan serta klinik-klinik perkebunan di kabupaten Pasangkayu.

Pada pertemuan tersebut disepakati penguatan koordinasi dan kerja lintas sektoral untuk menyukseskan kabupaten Pasangkayu Eliminasi Malaria 2020.

Beberapa hal yang akan ditindaklanjuti, yakni adanya regulasi terkait dengan surveilans migrasi di tingkat kecamatan hingga ke tingkat desa. Kedua menguatkan surveilans malaria 1-2-5 setelah ditemukan kasus malaria.

Juga ditekankan, agar hari kedua sudah dilakukan penyelidikan epidemiologi dan hari ke lima sudah dilakukan tindakan. Hal ini, juga telah disepakati oleh klinik-klinik perkebunan sawit  termasuk kerjasama terkait laporan ke puskesmas dan dinas Kesehatan.

Sekertaris Dinas Kesehatan Pasangkayu, Amalia Anwar, menyampaikan rasa gembira terhadap antuasiasme semua sektor di kabupaten Pasangkayu untuk mengeliminasi malaria dari wilayah mereka.

“Dengan upaya lintas sektor ini, kami optimis bahwa kabupaten Pasangkayu bisa bebas malaria pada tahun 2020. Dan tentunya, ini sebuah pencapaian besar untuk mendukung provinsi Sulawesi Barat bebas Malaria di Indonesia,” kata Amalia.

Tahapan ini dimulai dengan penilaian awal yang akan dilakukan oleh Dinas Kesehetan Sulbar pada bulan April 2020. Selanjutnya, akan diajukan ke Kemenkes pada September 2020 jika sudah memenuhi syarat.

Semua berharap agar  kabupaten Pasang kayu berhasil mendapatkan sertifikasi eliminasi malaria tahun ini.

Kominfo Pers Pasangkayu

Arham Bustaman

loading...