Baca Juga: 16 Kilogram Sabu Berhasil Diamankan Polisi di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu
“Nah ini merubah manusia berpikir. Teman-teman mahasiswa saat ini tidak sadar. Karena mereka berpikir masih enak-enak saja. Padahal dipertontonkan dengan pemanasan dunia, krismon, Elnino, segala hal yang dipertontonkan sama kita. Tapi kita tidak memiliki kesadaran,” jelas Sadig.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir turut menyoroti pentingnya pengelolaan lingkungan yang tetap memperhatikan keseimbangan alam serta kemampuan lingkungan dalam memulihkan diri.
Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam tetap dapat dilakukan selama tidak melampaui batas daya dukung dan daya tampung lingkungan. Ia menjelaskan bahwa alam memiliki kemampuan untuk melakukan pemulihan atau recovery, baik secara alami maupun melalui rekayasa manusia.
“Kalau dalam konsep ilmu lingkungan semua sesuatu itu bisa dieksplorasi yang penting tidak melewati dua hal, tidak melewati daya tampung, tidak melewati daya dukung. Artinya apa? Alam punya kemampuan merecovery,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, Ibnu Mundzir kemudian mengajak peserta diskusi untuk memahami dampak penggunaan bahan kimia melalui buku Silent Spring, yang membahas tentang masuknya zat kimia ke dalam rantai makanan hingga berdampak pada kesehatan manusia.
“Buku Silent Spring itu menggambarkan tentang bagaimana yang namanya herbicide masuk ke dalam rantai makanan,” katanya.
Dalam penjelasannya, ia juga mengaitkan persoalan lingkungan dan kesehatan dengan nilai-nilai agama. Menurutnya, ajaran agama telah lebih dahulu mengatur pola hidup manusia demi menjaga keberlangsungan hidup dan kesehatan. “Nah batasnya itu kemudian ilmu pengetahuan,” ungkapnya.
Terakhir, ia menegaskan bahwa manusia diperbolehkan memanfaatkan alam, namun harus tetap memperhatikan batas-batas yang ada agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga dan tidak menimbulkan kerusakan di masa mendatang.






