Puluhan Guru Asal Kota Palu Lakukan Lawatan Sejarah di Donggala

Redaksi
Guru-guru SMK se-Kota Palu melakukan kunjungan ke bangunan bernilai sejarah di kota tua Donggala.( Foto : JAMBRIN AB)
A-AA+A++

Donggala, Posrakyat.com – Sebanyak 40 guru SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) se-Kota Palu melakukan lawatan sejarah ke sejumlah situs peninggalan kolonial di kota tua Donggala, belum lama ini. Mereka tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Kota Palu mengunjungi situs-situs yang bernilai sejarah peninggalan pemerintah Belanda yang ada di kota Donggala. Dalam kunjungan itu MGMP Kota Palu diketuai Djais dan Sekretaris Refiady dengan ketua panitia Hj. Anilawa.

Situs sejarah yang dikunjungi yaitu kawasan Coprafonds atau PKKD (Pusat Koperasi Kopra Daerah). tempatnya berada di Kelurahan Tanjung Batu yang dikenal memiliki pelabuhan kopra zaman Hindia Belanda.

Kunjungan lain berada di bekas Aduma Niaga salah satu gedung bekas BUMN yang dinasionalisasi pemerintah Indonesia dari tangan Belanda yang dulu namanya Borsumij. Gedung yang berada di dekat pelabuhan ini pada saat gempa bumi dan tsunami setahun lalu telah roboh dari lantai tiga hingga ke lantai dasar. Begitu pula gudang penyimpanan barang yang berada di bagian belakang roboh hingga atapnya berhamburan. “Meskipun sudah roboh  kami tetap mengunjungi dalam kegiatan lawatan sejarah ini, karena ini merupakan bukti sejarah yang memiliki nilai yang cukup penting dari warisan yang ada di Donggala,” jelas Idrus Rore salah satu sejarawan dari UNTAD dalam rombongan tersebut.

Dari Aduma Niaga rombongan lawatan menyeberang ke kawasan pelabuhan Donggala menyaksikan aktivitas buruh melakukan bongkar muat dan mengambil dokumetasi kantor Douane ata Bea dan Cukai. Sebuah gedung besar berlantai tiga yang merupakan bangunan kedua setelah dibangun kembali tahun 1967. Sebab bangunan pertama yang dilakukan pemerintah belanda awal abad ke 20 sudah rusak sejak zaman Revolusi karena berbahan kayu, sehingga dibangun yang baru. Masih di akwasan pelabuhan, para guru juga mengunjungi bekas toko Teng Hien, salah satu bangunan berarsitektur paduan lokal dan kolonial yang pada zamannya sudah cukup bagus dengan bahan kayu sampai sekarang masih utuh. Sebutan Teng Hien merujuk dari nama orang yang pernah menyewa bangunan tersebut.

Dua bangunan berikutnya yang jadi tujuan kunjungan adalah bekas rumah dinas KPM (PELNI) zaman Belanda yang berada di sudut Jalan Lamarauna Jl. Banawa. Bangunan yang kondisinya cukup berat itu Karen atidak terpeliharan betul-betul murni masih bangunan Belanda. “Dari beberapa peninggalan kolonial yang ada di Donggala, rumah KPM ini paling tua dan betul-betul asli belum pernah diubah bentuknya hingga saat ini. Cuma saja sudah cukup rusak karena tidak pernah dilakukan perbaikan. Dari bahan-bahannya itu menunjukkan sudah cukup tua dibanding yang lain,” kata Zulkifly Pagessa salah satu pemateri dalam pertemuan dengan guru di gedung tersebut.

Dari Rumah KPM, para guru SMK berkunjung ke kawasan rumah Asisten Residen Midden Celebes yang ada di Gunung Bale. Meskipun pengunjung tidak masuk ke dalam rumah yang kini telah menjadi rumah jabatan Wakil Bupati Donggala, tapi pengunjung cukup menyaksikan dari luar terutama berada di tangga-tangga yang berada di halaman depan. Tangga beton tersebut berundak-undak masih asli dan memiliki rentetan jalan tangga ke tengah kota tak jauh dari arah rumah dinas KPM.  (JAMRIN AB)

Berita Terbaru

FPPD Sulteng Desak Polres Donggala Usut Tuntas Dugaan Material Quarry Ilegal Proyek Tanampulu-Malino

PosRakyat.com – Ketua Front Pemuda Peduli Daerah (FPPD),...

Apresiasi Polda Sulteng, Pemuda Muhammadiyah Donggala Ajak Pemuda Bersama Jaga Kamtibmas

PosRakyat.com – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten...