Cagar Budaya Donggala Masih Terlantar

oleh -
oleh
Tampak salah satu peninggalan Belanda yang terlantar di Donggala. ( Foto: Jamrin Abubakar)

Donggala, PosRakyat.com – HAMPIR dua tahun pascabencana gempa bumi dan tsunami, hingga kini situs bangunan bernilai sejarah sebagai warisan kota tua Donggala masih terlantar. Belum ada upaya pemerintah melakukan recovery atau revitalisasi sebagai dampak bencana alam 28 September 2018 lalu. Bangunan- bangunan tua penanda zaman kota Donggala sebagai pusat kejayaan saat ini lebih banyak yang rusak.

Bangunan bersejarah di Donggala umumnya berada di dekat pantai pelabuhan Donggala yang terdampak langsung tsunami. Antara lain gudang kopra (Coprafont) peninggalan kolonial, gedung Aduma Niaga (Budhi Bhakti), gedung Bioskop Muara, Langgar Arab, Rumah Tua Labuan Bajo dan gudang pelabuhan Donggala. Semua warisan budaya tersebut hancur, rusak berat tidak bisa lagi digunakan, kecuali dilakukan revitalisasi. Di antara peninggalan bersejarah tersebut, baru gedung Aduma Niaga yang betul-betul mendapat perhatian dari pengelolanya. Pihak PT. PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) salah satu BUMN turun langsung melakukan pembenahan dengan merapikan reruntuhan gedung dan memberi pakar sekeliling.

“Perapihan ini dilakukan agar kondisinya tetap rapi walau sudah runtuh. Selain itu agar jangan sampai warga sekitar maupun orang yang secara kebetulan lewat gedung jangan sampai terkena reruntuhan atau kemungkinan saja kena dampak bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” jelas Manajer Managemen Properti PPI Pusat, Yudi Astira Yusuf saat ke Donggala.

Yudi Astira Yusuf bersama anggota tim PPI Pusat datang khusus ke Donggala pascabencana melakukan peninjauan aset PPI (Aduma Niaga) yang mengalami kerusakan. Berbagai aset mengalami kerusakan, bukan hanya yang berada di Donggala, tapi juga yang berada di Palu berupa kantor dan gudang usaha. Menurut Yudi Astira keberadaan gedung milik BUMN ini sekiranya pemerintah daerah Kabupaten Donggala bisa memanfaatkan sebagai tempat kegiatan budaya semacam museum atau galeri.

“Untuk itu perlu pembicaraan lebih lanjut dan kami setuju bila dikelola dengan baik yang tentunya pihak pemerintah daerah dapat merevitalisasi dengan tidak menghilangkan bentuk atau model aslinya. Yang jelas kami dari pihak PPI terbuka untuk penanganan gedung ini agar lebih bermanfaat bagi masyarakat sebagai heritage, apalagi selama ini sudah sering digunakan komunitas heritage Donggala,” jelas Yudi pada penulis.