Humas PT IMIP Benarkan Sorotan Tenaga Ahli Gubernur Sulteng, Simak Penjelasanya 

oleh -
Banjir terjang kawasan PT IMIP. Tangkapan layar / PosRakyat.com

PosRakyat – Humas PT Indonesia Morowali Industri Part (PT IMIP), Dedi Kurniawan membenarkan sorotan dari Tenaga Ahli Gubernur Sulteng Bidang Investasi, Peningkatan Fiskal dan Stabilitas Ekonomi, Andika terkait daya dukung yang tidak memadai lagi di area PT IMIP.

“Sudah benar yang disampaikan pak Andika. Terima kasih,” jawab Humas PT IMIP, Dedi Kurniawan singkat, seperti dilansir PosRakyat.com dari wartasulawesi.com terkait sorotan tersebut, Kamis, 30 Juni 2022, lalu.

Selanjutnya, Dedi juga tidak memberikan jawaban saat diminta tanggapan lebih lanjut seperti apa rencana PT IMIP kedepan terkait sorotan Andika itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, TA Gubernur Sulteng, Andika menyoroti daya dukung di areal kawasan PT IMIP yang dinilainya sudah tidak memadai lagi.

Kritikan TA Andika itu bermula dari terjangan banjir di area kawasan PT IMIP yang merendam pemukiman warga di desa Bahomakmur, jalan trans sulawesi dan kendaraan, Senin, 27 Juni 2022, lalu.

“Daya dukung ruang, struktur ruang ekologis, sosial di IMIP sudah tidak karu-karuan. Infrastruktur publik, fasilitas sosial, umum dan ekologis sudah di ambang kolaps. Tapi tidak ada perhatian pada hal itu,” ujar Andika.

Andika berharap, Kebijakan penataan ruang di IMIP tidak bisa lagi di pandang menjadi tanggung jawab Pemkab dan Pemprov.

Dia mengatakan, salah satu masalah besar di areal PT IMIP yakni infrastruktur jalan, pengelolaan aliran sungai, kawasan penghijauan sabuk pengaman dan penataan pemukiman pekerja.

Andika kemudian menegaskan, bahwa yang dimaksud dengan daya dukung ruang itu, bukan soal legalitas, tapi fakta eksisting dimana tata kelola ruang di sempadan IMIP itu memerlukan perhatian khusus.

“Misalnya kondisi infrastruktur jalan negara yang menghasilkan macet setiap hari, karena badan jalan kecil tidak ada drainase dan sebagainya,” katanya.

Disaat bersamaan, ribuan orang lalu lalang di jalan yang sangat sempit itu baik saat berangkat kerja maupun pulang kerja. Begitu juga dengan penataan aliran sungai dan sabuk hijau yang pola ruangnya belum jelas, dalam konteks tata kelola kawasan.

Andika juga menyoroti pemukiman para pekerja yang kondisinya memprihatinkan, karena berada di luar kawasan industri.

Semua itu, harus menjadi perhatian serius dari manajemen PT IMIP.

Olehnya, Andika menyarankan agar perluasan kawasan PT IMIP harus dikaji secara serius, terutama ambang batas daya dukung ruang.

Andika memberikan contoh, jalan yang selalu dilalui para pekerja di PT IMIP misalnya. Saat ini daya dukungnya sudah tidak memadai lagi, sehingga selalu menimbulkan kemacetan yang panjang tiap kali para pekerja masuk kerja atau pulang kerja.

“Jadi yang saya soroti bukan masalah legalitasnya, tapi daya dukung ruang yang tidak memadai lagi saat ini. Yang saya maksud adalah setting awal kawasan dan luar kawasan, bukan soal legalitas kawasan,” pungkasnya.***