Camat Toribulu Diminta Belajar Ilmu Komunikasi

oleh -
Mastang. Foto: Ist

PosRakyat – Buntut dari sikap Camat Toribulu, Hamzah A. Rauf yang abai dan terkesan arogan melayani konfirmasi dari wartawan menuai sorotan dari sejumlah pihak.

Baca Juga: LS-ADI Gelar Doa Bersama Untuk Korban Longsor di Tambang Buranga

Salah satunya dari Ketua Badan Semi Otonom Informasi dan Teknologi Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI) Sulawesi Tengah, Mastang. Di mana ia menyayangkan sikap seorang pejabat setingkat camat seperti itu. Sebab seorang pejabat harusnya memahami teori komunikasi dengan siapa pun di depan publik termasuk dengan media.

Baca Juga: Reses, Ketua DPRD Palu Serahkan Bantuan Kepada Warga

“Kita sangat menyayangkan itu. Sebaiknya Pak Camat banyak belajar ilmu teori komunikasi supaya memahami bagaimana berkomunikasi ke publik,” ujar Mastang, Rabu, 3 Maret 2021.

Baca Juga: Terkesan Arogan, Camat Toribulu Tak Mau Layani Wartawan Soal Dugaan Memasukan Excavator untuk PETI

Selaku salah seorang yang berasal dari Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, Mastang mengaku heran atas pernyataan Hamzah kepada wartawan. Padahal, tujuan wartawan mengkonfirmasi suatu informasi untuk kepentingan bahan berita yang akan disajikan ke publik.

Tentunya, seorang wartawan mengkonfirmasi didasari dengan informasi yang diatur oleh Kode Etik Jurnalis (KEJ) dan Undang – Undangan Pers.

“Ada kode etik yang dijunjung tinggi oleh jurnalis dalam melakukan konfirmasi. Itu tidak sembarang. Ada Undang – Undang yang mengatur mereka,” jelas Mastang.

Menurutnya, Hamzah terkesan alergi terhadap wartawan karena tidak mau melayani apa yang menjadi obyek pertanyaan. Ada semacam proteksi dan hanya mau melayani media yang dekat dengannya.

Sebelumnya, Camat Toribulu, Hamzah A. Rauf tidak mau melayani konfirmasi dari tim media terkait dugaan memasukan alat berat excavator di Desa Tomoli Selatan, Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong.

Saat ditanya dugaan keterlibatannya memasukan alat berta, ia hanya membalas dengan jawaban yang bertele – tele dan terkesan tidak memahami tugas dan fungsi wartawan dalam mengkonfirmasi.

“Balik bertanya, emang ada buktinya. Berarti salah alamat dugaanmu. Itu namanya menduga – duga,” balas Hamzah.

Ia bahkan mengatakan bahwa terlalu jauh wartawan menanyakan hal itu. Kalau memang betul atau tidak, Hamzah mengaku cukup menyampaikannya kepada media yang ada di daerah Parmout, sambil mencatut nama – nama media lokal yang dimaksud. Ia bahkan meminta supaya mencari informasi – informasi yang lebih aktual ketimbang menanyakan soal dugaan itu kepadanya.

“Tidak ada waktuku melayani jurnalis seperti anda. Maaf,” tulis Hamzah via chat WA.

Usai membalas chat WA, Hamzah kemudian memblokir kontak wartawan dan tidak mau lagi melayani pertanyaan dari tim media. Ketika dikirimkan sms dengan pertanyaan yang sama, ia tak membalas sms.***