KISAH DARDANELLA DAN LAHIRNYA SANDIWARA PEMUDA DONGGALA

oleh -
Salah satu bentuk pertunjukan sandiwara di Donggala dekade 1960-an (Doc. JAMRIN AB)

Posrakyat.com – PERTUNJUKAN teater (dulu dikenal: tonil dan sandiwara) di kota Donggala pernah menjadi bagian mata rantai perkembangan kesenian-kebudayaan Nusantara.

Kemudian ada masa-masa tertentu mengalami kevakuman. Ketika kota-kota sezamannya tetap mengalami kemajuan, Donggala justru tak lagi diperhitungkan. Sewaktu roda perekonomian masih berputar, sosial budaya dan politik sedang mengalami kejayaan lewat jalur pelayaran Nusantara, Donggala berada dalam peta jaringan pelayaran selama ratusan tahun. Tetapi, perubahan demi perubahan secara global, akhirnya kota yang dikenal dengan kain tenunnya itu, mengalami pasang-surut dalam gelombang situasi politik hingga terpuruk dengan lenyapnya peran bandar niaga secara berangsur-angsur.

Padahal kalau membuka kembali memori peristiwa kerja kesenian tempo doloe di Donggala dikenal memiliki banyak kesenian tradisi. Tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat yang kemudian tak lepas dari pengaruh dari luar, kesenian tradisi setempat saling beradaptasi. Berbagai pergaulan budaya dari luar dengan mudah masuk dan dapat diterima, berbagai kelompok sandiwara terkenal pada zamannya menjadikan Donggala “kota wajib” yang disinggahi untuk melakukan pertunjukan. Sebut saja Dardanella, kelompok sandiwara legendaris asal Surabaya dengan bintang panggungnya yang cantik, Dewi Dja pernah datang ke Donggala tahun 1930-an (tidak diketahui tahun kepastiannya). Dardanella pimpinan Piedro asal Rusia, suami Dewi Dja pada zamannya (1930-an – 1950-an) merupakan kelompok sandiwara terkemuka di Indonesia. Melakukan pertunjukan keliling Nusantara hingga ke beberapa negara di Asia, Eropa dan berakhir di Amerika Serikat hingga  bubar.

Kedatangan Dardanella di Donggala selama beberapa hari pertunjukan disambut gembira warga kota maupun warga dari kampung sekitarnya. Mereka beramai-ramai menyaksikan sandiwara yang pada zaman pemerintah Hindia Belanda merupakan hiburan rakyat paling digemari. Bila dibandingkan dengan sekarang,  kedatangannya sama dengan ketika sebuah grup musik yang lagi tenar di Jakarta melakukan show atau konser ke daerah. Begitu pula sambutan masyarakat pada Dardanella. Maka sejak itu pula istilah “passandiwarae” sering terdengar di Donggala. Passadiwarae artinya, pemain sandiwara. “Kamu hanya bersandiwara,” begitu biasa orang menyebut bagi mereka yang sering bermain-main dalam suatu hal.
Selain Dardanella, rombongan sandiwara dari Minahasa dan Ende pada dekade yang sama juga tampil mementaskan sandiwara (tonil) di Donggala. Sambutan masyarakat pada sandiwara karena dianggap suatu gambaran atau cerminan  berbagai realitas sosial masyarakat. Sandiwara yang memakai layar dalam setiap peralihan babak dan diselingi nyanyian serta iringan musik, merupakan ciri khas pertunjukan pentas drama zaman itu.

Seringnya grup sandiwara datang, secara tidak langsung menjadi embrio dengan tumbuhnya minat pemuda Donggala pada seni panggung modern. Akhir dekade 1940-an mulai muncul kelompok sandiwara yang dimainkan pemuda-pemuda setempat sebagai pengaruh kelompok sandiwara dari luar. Sejak tahun 1950-an di Donggala pun terbentuk grup-grup sandiwara mulai melakukan pertunjukan, di antaranya Sandiwara Pemuda Donggala (SPD) dan Sandiwara Kita. Tentunya sandiwara belum dikelola secara profesional, melainkan sebagai media perkumpulan  pemuda untuk penyaluran bakat seni. Pemuda yang penggiat seni itu, solidaritasnya sangat tinggi di antara mereka dan memiliki perhatian cukup serius dalam mempertahankan kemerdekaan di kotanya.

Ketika terjadi penolakan pendudukan Belanda yang diboncengi Sekutu/NICA, pemuda Donggala dalam barisan Pemuda Indonesia Merdeka (PIM) melakukan penurunan bendera merah-putih-biru milik pemerintah Hindia Belanda di halaman Kantor Doane (Bea dan Cukai), Pelabuhan Donggala, 21 November 1945. Waktu itu sandiwara telah dijadikan salah satu media propaganda ke masyarakat untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Kesaksian Abdul Djalil (80 tahun) warga Donggala menyebutkan masa setelah kemerdekaan tokoh-tokoh pemuda sering mementaskan sandiwara, seperti yang dilakukan Umar Papeo, seorang tokoh pergerakan dari Gorontalo yang berjuang di Donggala. kemudian kelompok Sandiwara Sri Mutiara asal Banjarmasin tahun 1947 yang dibawa MI. Alham datang ke Donggala makin memposisikan pentingnya kelompok seni sandiwara. Sri Mutiara yang membawa sejumlah pemain pentas Donggala dan Palu hingga pertengahan tahun 1960-an. Sebagian anggotanya menetap di Donggala dan Palu, di antaranya MI. Alham beberapa lama melakukan pembinaan sandiwara dan melukis pada pemuda di Palu. Selanjutnya  bergabung dalam partai politik hingga menjadi Ketua DPRD Kabupaten Donggala (1959-1960). Demikian halnya Sjukrie Ma’ien pemain sandiwara yang datang bersama MI. Alham memilih menetap di Donggala dan bergabung dalam Partai Masyumi yang membawanya duduk di DPRD Provinsi Sulawesi Tengah.
Beberapa tokoh yang berlatar belakang pemain sandiwara masa awal akhir dekade 1940-an di Donggala, selain Sjukrie Ma’ien sebagai pelopor, di antaranya Andi Raga Pettalolo, Andi Cella Nurdin, Ladudin Bungkato. Perkembangan selanjutnya dekade 1960-an ada pula nama Ibrahim Hasyim aktif dalam pertunjukan. Belakangan juga aktif dalam politik sebagai kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dekade 1970-an dan 1980-an yang membawanya sebagai anggota DPRD Donggala.

Perkembangan selanjutnya, pertunjukan sandiwara yang kemudian popular disebut drama dan kini teater di kota Donggala tidak rutin. Hanya beberapa kali dalam setahun, menyusul kurang intensnya generasi  muda pada seni peran tersebut. Walaupun kadang masih ada kegiatan, tapi terbilang langka ketimbang era sebelumnya. Sepanjang dekade 1980-an saja, hanya ada sekali pertunjukan drama digelar secara akbar dan cukup sukses di Lapangan Basket Donggala oleh Kelompok Seni Hitam Putih Donggala (KSHPD). Kelompok tersebut membawakan sebuah  lakon karya Putu Wijaya tahun 1988 dan baru 4 November 1995 kembali digelar sebuah teater di tempat sama dengan naskah garapan KSHPD berjudul Kesaksian yang digarap Franky, seorang aktivis LSM.
Melihat pasang-surut kehidupan kesenian yang mengalami kelesuan itu, Zulkifly Pagesa dan beberapa penggiat seni di Donggala dan Palu menggagas “Artefak Donggala” tahun 1999 sampai 2004  beragendakan teater. Momentum ini memunculkan kembali minat anak-anak muda Donggala membentuk Komunitas Seni Donggala dengan menggarap teater. Sayang timbul tenggelam, tidak melakukan proses kreasi secara rutin. Hadir secara tiba-tiba ketika “dipaksakan” agar bisa tampil di suatu kegiatan dan setelahnya menghilang dengan cepat. Kegiatan seni tak pernah rutin digelar, muncul saat akan mengikuti event lomba.
Kehadiran Artefak Donggala, sempat “mengusik” penggiat-penggiat seni yang selalu diam tak bergeliat untuk bangkit. Gawean yang sempat tampil (1999, 2000, 2002, 2004) ini terbilang bergaung, penyajinya secara individu dan  kelompok seni dari Donggala, Palu dan sekitarnya. Setiap berlangsung kegiatan tak pernah sepi penonton. Pertunjukan teater, musik dan tari tradisi-kontemporer, pameran seni rupa, teater jalanan (happening art), monoplay, baca sastra, diskusi budaya dan berbagai seni yang spontanitas dalam bentuk kolaborasi disatukan.
Semangat “Artefak Donggala” selanjutnya padam di tengah semangat gagasan menjadikan Donggala kota budaya dan menjadi jaringan kerja kebudayaan seperti masa kejayaan Dardanella.

Penulis : JAMRIN ABUBAKAR (Peminat sejarah dan budaya di Donggala)

loading...