Ini Pengakuan Kader Demokrat Soal Peserta KLB Sibolangit

oleh -
Kader Partai Demokrat Sulteng, Rully Hadju. Foto: Ist

PosRakyat – Kisruh Partai Demokrat terus menjadi sorotan publik, utamanya soal Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar di Sibolangit Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara oleh kubu Moeldoko dan sejumlah oknum internal PD beberapa waktu lalu.

Baca Juga: PETI di Kabupaten Parigi Moutong, 5 Ditetapkan Tersangka 3 Diantaranya Dalam Pencarian Polisi

Rully Hadju merupakan salah seorang yang ikut dalam kepesertaan KLB Sibolangit mengemukakan dalam testimoninya mengaku bahwa KLB tersebut tidak menggambarkan sebuah gelaran kegiatan partai politik yang demokratis dan terkesan dipaksakan untuk dilaksanakan. Di mana peserta yang mengikuti KLB itu sebagian bukan dari internal Partai Demokrat.

Baca Juga: Curi Barang di Masjid Hasilnya Untuk Beli Narkotika

“Seperti Pak Ketua sampaikan tadi tidak memenuhi 2 per 3 dari jumlah DPD maupun DPC,” tutur Rully di sekretariat kantor DPD PD Sulteng, Rabu, 17 Maret 2021.

Baca Juga: Ansor Sulteng Dukung Polri Berantas Penyebar Berita Hoax dan Ujaran Kebencian

Kemudian kata dia, dari hasil testimoni sejumlah peserta yang hadir di lokasi KLB diduga hanya sopir taksi. Jadi utusan atau Liaison officer (LO) yang diduga dari Jakarta untuk melakukan komunikasi di beberapa provinsi tidak mendapatkan akses, karena cukup solid para Ketua DPD dan DPC di daerah.

“Terpaksa yang diberangkatkan itu sopir taksi yang mereka rental di daerah yang mereka kunjungi. Sampai di sana saya tanya ada KTAnya ndak, dan ternyata KTAnya ini diedit,” kata Rully.

Kartu Tanda Anggota (KTA) tersebut lanjut Rully, diedit dengan tanda tangan Ketua Umum (Ketum) PD Agus Harimurti Yudoyono (AHY), cuma yang membedakan bahwa itu bukan KTA online.

Baca Juga: Membangun Zona Integritas, Wakapolda Sulteng Pimpin Studi Banding ke Polda Jateng

Di hadapan Ketua DPD PD Sulteng, Anwar Hafid, Rully menceritakan posisinya berangkat ke Sibolangit bukan sebagai peserta, tetapi karena ingin memantau, mencari tahu, dan memastikan tentang proses pelaksanaan KLB tersebut.

“Kartu yang dilekatkan ini, saya juga mahu masuk, mahu suka lihat situasi di dalam, kalau saya pantau tidak tertulis sebagaimana lazimnya peserta – peserta kongres atau KLB. Biasanya kan ada utusan,” jelas Rully.

Utusan yang dimaksud katanya, terdaftar sebagai peserta asal daerah perwakilan DPD maupun DPC. Misalnya peserta kongres dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Parigi Moutong (Parmout) maupun peserta utusan DPD Sulteng. Dalam KLB itu tidak tercatat atau teridentifikasi dalam kartu tersebut asal daerahnya.

Dari situasi itu, menurut Rully sudah bisa dibaca dan analisa bahwa KLB itu tidak betul. Hanya kawan – kawannya khususnya dari Sulteng sudah terlanjut diiming – iming uang dengan jumlah yang sangat besar.

“Cuma kan teman – teman terlanjut dihasratkan dengan iming – iming uang yang besar dan segala macam. Kalau jumlah Rp 130 juta. Itu iming – iming,” ungkapnya.

Kemudian Rully mengaku tidak menerima uang yang janjikan tersebut, lantaran dirinya bukan sebagai peserta KLB dan hanya meminjam kartu peserta supaya bisa masuk di arena kongres. Yang menjadi tanda tanya, kongres itu dilaksanakan tanpa kandidat terpilih. Ia mengatakan kegiatan itu dibuat dengan demokratis dengan mendorong Marzuki Alie dan Moeldoko untuk bertarung calon Ketum PD versi KLB.

“Baru itu kongres dilaksanakan tanpa kandidat terpilih. Jadi memang ini aksi akal – akal dibikin seolah – olah kesannya ini demokratis dikasi bertarung Pak Marzuki Alie dan MDL,” beber Rully.

Ia berpendapat bahwa KLB itu sudah disetting sejak lama. Menurutnya, itulah yang membedakan kongres di Deli Serdang dengan kongres Hotel Sultan Jakarta.

Dari hasil testimoninya beberapa kader PD yang hadir di Sibolangit, ia memastikan 75 sampai 80 persen bertentangan dengan hati nurani sebagai kader. Baik kader dari Manado, Sultra, dan Kalimantan.

“Seperti pernyataannya mereka. Bahwa kami ini sudah dibohongi dan dari awal sudah kontra, saya bilang kenapa berangkat. Dorang (mereka) balik tanya kenapa bapak berangkat. Saya bilang kalau saya bawa misi khusus,” ujar Rully.

Ia bercerita bahwa sejak awal berangkat ke Sibolangit sudah berkoordinasi dengan Ketua DPC PD Kabupaten Buol, Kasmat Ibrahim dengan berbagai macam pertimbangan, bahkan jelang keberangakatan pada pagi hari, Rully mengaku kepada Kasmat bahwa tidak akan jadi berangkat karena beban moral yang akan ia terima. Tetapi Kasman mendorongnya untuk tetap berangkat supaya dapat mengetahui bagaimana informasi gelaran KLB tersebut. Nanti soal keberangkatannya, Kasmat yang akan mengkoordinasikan dengan Ketua DPD PD, Anwar Hafid. Ia mengaku keberangkatan itu sebagian menggunakan uang pribadi.

“Iya lagi banyak uang pribadi saya. Karena ada penguatan dari Ketua DPC berangkat saja segala sesuatu nanti telepon saya. Saya bilang oke. Saya berangkat. Cuma saya bilang resikonya saya beban psikologis karena saya akan tertuding sebagai penghianat dan saya akan tertuding sebagai orang yang menginfiltrasi, dan resikonya juga cukup luar biasa buat saya,” cerita Rully.

Oleh karena itu tambah Rully, ketika ada permintaan dari Kasmat bahwa dirinya harus melakukan testimoni ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP), maka ia mengaku siap untuk melakukan itu. Hanya saja dirinya meminta harus dikawal, sebab harus disadari yang menjadi lawan PD kubu AHY bukan kekuatan sembarang. Olehnya itu ia siap apa pun resiko itu.

“Saya cinta SBY, saya cinta AHY, saya cinta Anwar Hafid. Cuma mungkin ada teman – teman agak sinis dalam status media sosial,” tandasnya.

Rully memaklumi sinis dari sejumlah kader. Namun demkian alam rangka melakukan infiltrasi memang harus seperti itu, dirinya tidak boleh terbaca siapa pun. Kalau hari ini ia sudah terbaca maka ia sudah siap, dan menegaskan dirinya adalah kader partai besutan AHY.

Sementara, menurut Yusrin L. Bana seluruh peserta yang berangkat ke KLB Deli Serdang, dibiayai oleh panitia. Tiket peserta dari Palu – Jakarta – Medan Pulang Pergi (PP) ditambah biaya makan minum di perjalanan, semuanya menjadi tanggunggan panitia yang diserahkan melalui koordinator tim Sulteng, Zulfakar Nasir.

“Jadi, tidak benar kalau Rully menggunakan biaya sendiri saat berangkat ke KLB,” ujar Yusrin.

Jadi katanya, apa yang disebutkan oleh Rully Hadju dalam testimoni itu jauh dari fakta yang ada. Bahkan seluruh peserta asal Palu yang tiba di Bandara Kualanamu, Medan, dijemput dengan bus yang disiapkan panitia untuk dibawa ke Hill Hotel dan Resort Sibolangit tempat penyelenggaraan KLB.

“Jadi sekali lagi, Rully berbohong kalau transportasi ke acara KLB pakai biaya sendiri. Begitu juga biaya pulang. Semuanya diberikan uang tunai untuk tiket pesawat ke Medan-Jakarta,” katanya.

Manuver Rully Hadju melalui video testimoni yang beredar luas di group WhatsApp itu sebut Yusrin, merupakan tindakan “bunuh diri” dan menginjak harga dirinya sendiri. Apalagi, testimoni itu justru tidak mempengaruhi keabsahan Muldoko yang telah terpilih di KLB Partai Demokrat.

“Saya paham betul apa yang ada di pikiran Rully Hadju. Testimonnya itu, hanya ngarang . Itu tindakan ‘bunuh diri’ dia,” jelas Yusrin.

Manuver itu, tambah Yusrin, lebih didasari pada ketidakpuasan atas ekspektasi seorang Rully Hadju terhadap biaya yang akan diberikan kepada peserta yang hadir di KLB.

“Sangat besar kemungkinan atau patut diduga, uang dia terima saat di KLB itu, tidak sesuai dengan ekspektasinya sebelum berangkat,” katanya.***

Penulis : BOB